BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 12 JANUARI 2026 • 17:35 WIB

Menggali Isu Grooming: Pengalaman Aurelie Moeremans yang Menggugah Kesadaran

Menggali Isu Grooming: Pengalaman Aurelie Moeremans yang Menggugah KesadaranMenggali Isu Grooming: Pengalaman Aurelie Moeremans yang Menggugah Kesadaran

Aktris Aurelie Moeremans berbagi cerita tentang pengalaman grooming yang menimpanya sejak remaja, yang terungkap dalam bukunya 'Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth'.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia

Kisah ini telah menciptakan perhatian luas di masyarakat, menyoroti masalah serius yang sering kali tersembunyi ini.

Memahami Grooming dan Prosesnya

Grooming adalah proses pendekatan emosional yang dilakukan oleh individu untuk membangun kepercayaan dengan tujuan memanipulasi atau mengeksploitasi korban. Istilah ini sering digunakan dalam konteks kejahatan seksual, terutama terhadap anak-anak dan remaja.

Pelaku grooming, kadang disebut groomer, mengadopsi berbagai strategi untuk mendekati target yang dianggap rentan. Mereka cenderung memilih korban yang merasa kesepian, kurang perhatian, atau aktif di media sosial.

Proses grooming biasanya terdiri dari beberapa tahap yang terencana. Tahap pertama adalah membangun kepercayaan; pelaku bersikap ramah dan perhatian, memberikan pujian, serta menciptakan ikatan emosional yang membuat korban merasa istimewa.

Setelah korban merasa aman dan terikat, pelaku mulai memperkenalkan perilaku yang tidak pantas. Dalam tahap ini, pelaku mengubah perilaku tak pantas menjadi hal yang normal, seringkali menjurus pada eksploitasi seksual baik secara online maupun offline.

Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Mendengar Aspirasi dan Tuntutan

Dampak Psikologis yang Mendasar

Grooming meninggalkan bekas yang dalam pada psikologis korban. Trauma yang dialami sering berlanjut dalam jangka panjang dan dapat menyebabkan masalah seperti depresi dan kecemasan yang kronis.

Korban sering merasakan rasa bersalah dan malu meski sebenarnya mereka bukan pihak yang bersalah. Hal ini seringkali memicu berbagai gangguan seperti PTSD, yang berdampak serius pada kehidupan sehari-hari.

Emosi para korban menjadi kompleks; pelaku pada satu sisi membuat mereka merasa dicintai, sedangkan di sisi lain mereka juga merasa terjebak dalam manipulasi. Akibatnya, korban sering kesulitan dalam membangun hubungan dengan orang lain setelah pengalaman trauma.

Membangun Dukungan dan Upaya Pencegahan

Dukungan dari keluarga dan profesional kesehatan mental sangat krusial bagi proses pemulihan korban grooming. Mereka perlu merasa didukung agar bisa mengatasi pengalaman traumatis yang berlalu.

Pencegahan grooming bisa dilakukan melalui edukasi yang tepat untuk anak-anak dan remaja. Pengawasan terhadap aktivitas online mereka serta menciptakan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang dewasa menjadi sangat penting.

Masyarakat juga diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda grooming untuk melindungi mereka yang rentan. Dengan meningkatnya kesadaran, diharapkan praktik grooming dapat berkurang di lingkungan sekitar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Menggali Isu Grooming: Pengalaman Aurelie Moeremans yang Menggugah Kesadaran

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!