Kamis, 12 MARET 2026 • 14:45 WIB

Menpora Tegaskan Perlunya Perlindungan Atlet dari Pelecehan Seksual

Author

Menpora Tegaskan Perlunya Perlindungan Atlet dari Pelecehan Seksual

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengecam keras tindakan pelecehan seksual terhadap atlet, khususnya di cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing. Ia menyatakan bahwa perbuatan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan dan seharusnya tidak ada dalam dunia olahraga.

Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Mendengar Aspirasi dan Tuntutan

Erick juga menekankan pentingnya memberikan perlindungan bagi atlet yang telah mengorbankan banyak hal untuk mencapai prestasi. Tindakan hukum diperlukan untuk memastikan bahwa keadilan dapat ditegakkan bagi semua pihak yang terlibat.

Pernyataan Menpora Terkait Pelecehan Seksual

Erick menjelaskan bahwa tindakan pelecehan seksual oleh pelatih di cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing adalah kejahatan yang tak dapat ditoleransi. "Atlet itu sudah berkorban, tidak hanya sekolah, latihan, meninggalkan orang tua, tapi kok dizalimi dan ini sebuah hal-hal yang jahanam," tuturnya.

Meskipun mendukung penyelidikan, Erick menegaskan pentingnya asas praduga tak bersalah. Ia juga mencatat bahwa Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) telah mengambil langkah internal dengan menjatuhkan sanksi kepada terduga pelaku.

Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Pertama Campuran AS-Indonesia di MLS

Dorongan untuk Perlindungan Atlet

Erick menekankan bahwa langkah untuk mencegah pelecehan seksual harus diperkuat oleh kesepakatan bersama dari seluruh federasi olahraga. Hal ini merupakan bagian dari Program Safeguarding yang diperkenalkan oleh Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

"Kami sebagai pemerintah tentu mendukung segala bentuk upaya perlindungan terhadap atlet yang memang harus dilakukan," ujarnya.

Ia berharap kasus pelecehan ini tidak terulang dan menekankan perlunya sistem perlindungan yang kuat agar atlet merasa aman saat berlatih dan bertanding.

Keberanian Atlet untuk Melapor

Menpora juga mengapresiasi keberanian atlet yang melaporkan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Ini dianggap sebagai upaya introspeksi untuk memperbaiki sistem pembinaan di setiap federasi.

Ia menekankan perlunya langkah-langkah perbaikan agar semua proses pelatnas dan latihan berlangsung tanpa adanya pelecehan. Menpora menilai masalah ini mungkin sudah ada sejak lama tetapi sering kali disembunyikan untuk menjaga citra federasi.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU