Toxic positivity merupakan fenomena yang muncul ketika seseorang mengabaikan emosi negatif dan hanya berfokus pada hal-hal positif, meskipun situasi yang dihadapi tidak mendukung. Meskipun tampak bermanfaat, sikap ini dapat menimbulkan bahaya serius bagi kesehatan mental.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Perjuangan Masyarakat
Dengan semakin maraknya penggunaan frasa positif di media sosial, banyak yang tidak menyadari bahwa mengabaikan emosi mendasar seperti kesedihan dan kecemasan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity merujuk pada pandangan bahwa kita harus selalu bersikap positif, tanpa mengindahkan emosi negatif yang mungkin dirasakan. Hal ini sering kali terlihat dalam ungkapan-ungkapan seperti 'tetap positif' atau 'selalu bersyukur', yang mengabaikan realitas yang dihadapi oleh individu.
Di media sosial, banyak pengguna membagikan tips motivasi yang biasanya salah kaprah, membuat mereka yang sedang berjuang merasa tertekan. Perasaan tidak layak ini bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis
Konsekuensi dari Toxic Positivity
Salah satu dampak negatif dari sikap ini adalah perasaan terasing yang dialami individu yang berjuang dengan emosi sulit. Akibatnya, mereka merasa tertekan untuk menyembunyikan perasaan asli, yang seharusnya bisa diekspresikan secara sehat.
Lebih lanjut, toxic positivity juga dapat mengurangi kualitas dukungan yang bisa diberikan kepada teman atau keluarga. Tanpa menyadarinya, orang-orang yang menyerukan sikap positif dapat menyebabkan orang lain merasa lebih buruk saat mereka justru membutuhkan empati.
Menemukan Keseimbangan Antara Positif dan Negatif
Menyadari kapan harus bersikap positif dan kapan harus menerima emosi negatif sangat penting. Menerima kenyataan bahwa suatu situasi dapat sulit tidak selalu berarti ketidakpuasan, tetapi justru menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan.
Dengan menerima seluruh spektrum emosi, kita dapat memproses pengalaman dengan cara yang lebih sehat, salah satunya melalui berbagi cerita dan menjalin komunikasi yang tidak menghakimi antara satu sama lain.
Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: