Banyak orang di Indonesia menganggap nyeri di dada sebagai tanda 'masuk angin' atau 'angin duduk'. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi sinyal awal terjadinya serangan jantung yang memerlukan perhatian medis mendesak.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengguncang Bursa
Dokter spesialis jantung memperingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh gejala ini, karena dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Makna dan Persepsi Keluhan Nyeri Dada
Istilah 'masuk angin' atau 'angin duduk' sering muncul saat seseorang mengalami nyeri dada. Dr. Yislam Aljaidi, seorang spesialis jantung dan pembuluh darah, menjelaskan bahwa berbagai keluhan seperti sakit punggung dan keringat dingin juga bisa muncul bersamaan dengan nyeri dada.
Dia menekankan bahwa keluhan tersebut dapat menjadi tanda awal serangan jantung, sehingga perlu perhatian lebih daripada hanya dianggap gejala biasa. 'Karena keluhannya nyeri dada nggak nyaman, bisa menjalar ke bahu, bisa ke leher, ke punggung,' jelasnya.
Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus
Bahaya Penanganan yang Salah
Salah satu risiko terbesar dari penanganan yang keliru terhadap gejala serangan jantung adalah hilangnya waktu yang krusial. Dr. Yislam menyoroti bahwa saat seseorang merasa tidak nyaman dan mengandalkan metode rumah seperti kerokan, mereka mungkin mengabaikan gejala serius yang butuh perawatan segera.
"Makanya dianggap kayak 'angin duduk' karena pada saat itu dia dikerokin saja. Sementara jantung itu butuh waktu yang critical, cepat dibawa ke rumah sakit," tandasnya.
Kerokan: Mitos atau Kebenaran?
Banyak orang merasakan kenyamanan setelah dikerok, namun dr. Yislam menjelaskan bahwa metode ini tidak menyelesaikan masalah penyumbatan jantung. 'Kalau dikerok, pembuluh darah yang di dalam (jantung) tetap tersumbat. Kerokan itu cuma persepsi masing-masing orang dan sebenarnya sugesti saja,' ungkapnya.
Dia juga menegaskan perlunya hati-hati, karena kerokan dapat menyebabkan peradangan kulit hingga infeksi jika alat yang digunakan tidak steril. Dengan demikian, metode ini tidak direkomendasikan bagi mereka yang mengalami gejala serangan jantung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: