Seorang siswa Sekolah Dasar berinisial YBS dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya dalam sebuah kejadian tragis yang diduga berkaitan dengan ketidakmampuan finansial.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis
Peristiwa ini menjadi perhatian luas, terutama setelah diketahui bahwa YBS merasa tertekan karena tidak dapat membeli alat tulis senilai Rp10 ribu.
Kronologi Kejadian
YBS, seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun, meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Ibu YBS, yang berprofesi sebagai petani dan buruh serabutan, tidak memiliki uang untuk memenuhi permohonan anaknya.
Insiden ini terjadi pada hari Selasa, 3 Februari 2026, dan segera menjadi berita utama di berbagai media. Tekanan yang dirasakan YBS terkait kondisi ekonomi keluarganya dianggap sebagai faktor penyebab keputusan tragis ini.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Reaksi dari Pihak Berwenang
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, mengekspresikan keprihatinan mendalam terhadap peristiwa tersebut. 'Tentu kami sangat prihatin,' ujarnya saat konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta.
Dia menekankan perlunya pendampingan untuk keluarga-keluarga miskin yang tidak terdata, serta pentingnya data akurat untuk memahami kondisi masyarakat. 'Ini sangat penting untuk menjangkau seluruh keluarga yang memang memerlukan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan,' tambah Yusuf.
Tanggapan Kementerian Pendidikan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, juga menanggapi insiden ini. Ia mengungkapkan bahwa dirinya belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai YBS dan berencana melakukan penyelidikan.
'Nanti kami selidiki, saya belum tahu informasinya,' ekpresinya menunjukkan bahwa kolaborasi antar kementerian diperlukan dalam menghadapi isu-isu sosial yang kompleks.
Peristiwa ini mengingatkan kembali akan pentingnya perhatian terhadap pendidikan dan kesejahteraan siswa, terutama di daerah dengan kondisi ekonomi yang kurang mendukung.
Baca juga: Pertemuan Presiden Prabowo dengan Serikat Pekerja: Membahas Aspirasi Buruh dan Kebijakan Ekonomi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: