Setiap tahun, sekitar 675 ribu bayi lahir prematur di Indonesia, menjadikannya sebagai negara dengan kelahiran prematur tertinggi kelima di dunia.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat
Angka ini mencerminkan tantangan serius dalam kesehatan anak, mengingat prematuritas adalah penyebab utama kematian anak di bawah lima tahun.
Statistik Kelahiran Prematur di Indonesia
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 15 juta bayi lahir prematur setiap tahunnya, dengan lebih dari satu juta di antaranya meninggal akibat komplikasi yang dapat dicegah.
Dalam konteks Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia 2024 menunjukkan bahwa 26,4 persen kematian bayi terjadi pada masa neonatal. Penyebab utamanya adalah prematuritas dan bayi berat lahir rendah (BBLR).
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Pentingnya Perawatan Bayi Prematur
Rinawati Rosiswatmo, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengungkapkan bahwa perawatan bayi prematur harus lebih dari sekadar bertahan hidup.
"Asupan gizi yang tepat sejak hari pertama sangat menentukan bagaimana bayi dapat bertahan dan berkembang di kemudian hari," tegas Rinawati dalam seminar nasional tentang nutrisi untuk bayi prematur.
Pendekatan Holistik dalam Merawat Bayi Prematur
Bernie Endyarni Medise, Dokter Ahli Tumbuh Kembang Pediatri di RSCM, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam merawat bayi prematur.
"Bayi prematur dan BBLR membutuhkan perhatian menyeluruh, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari dukungan emosional keluarga, stimulasi, dan asupan gizi yang berkelanjutan," kata Bernie.
Ia juga menegaskan bahwa intervensi yang tepat, mulai dari perawatan intensif hingga dukungan keluarga, sangat penting agar bayi-bayi ini memiliki peluang untuk tumbuh kuat dan sehat.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Mendengar Aspirasi dan Tuntutan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: