Senin, 13 OKTOBER 2025 • 14:49 WIB

Tantangan Identifikasi Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny

Author

Tantangan Identifikasi Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny

Proses identifikasi jenazah korban tragedi Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, menghadapi berbagai tantangan signifikan. Hal ini disebabkan oleh kondisi jenazah yang tidak utuh dan minim tanda khusus.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis

Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Wahyu Hidajati menegaskan bahwa identifikasi saat ini sepenuhnya bergantung pada pemeriksaan DNA untuk menjamin keakuratan.

Kesulitan Proses Identifikasi

Menurut Kombes Wahyu, proses pencocokan DNA antara bagian tubuh yang terpisah dengan tubuh utama memerlukan ketelitian tinggi. "Kesulitannya karena bagian tubuh tidak lengkap dan tidak ada ciri-ciri khusus," jelasnya.

Dia juga menambahkan bahwa dalam pengalaman sebelumnya, seringkali ada bagian tubuh yang baru bisa cocok dua hari setelah tubuh utama teridentifikasi. "Kondisi serupa juga kami temui saat ini," imbuh Wahyu.

Dari total 171 orang yang terlibat dalam tragedi ini, 67 di antaranya telah dinyatakan meninggal dunia, termasuk delapan potongan tubuh yang berhasil ditemukan.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus

Tragedi Ambruknya Bangunan

Tragedi ambruknya Pondok Pesantren Al Khoziny terjadi pada Senin, 29 September, ketika para santri sedang melaksanakan salat Asar. Gedung yang ambruk adalah musala asrama santri putra.

Penyebab ambruknya bangunan ini diduga karena kesalahan konstruksi, yang memicu perhatian serius terhadap keamanan dan kelayakan bangunan pondok pesantren di seluruh Indonesia.

Banyak pihak mulai menyuarakan kebutuhan evaluasi terhadap standar pembangunan di fasilitas pendidikan, khususnya pondok pesantren.

Kerja Sama Tim Gabungan

Tim gabungan yang terdiri dari RS Bhayangkara Polda Jatim, Pusdokkes Polri, PDFI, serta berbagai instansi terkait sedang bekerja secara intensif untuk melakukan identifikasi. Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan ketelitian ilmiah dan memberikan empati bagi keluarga korban.

Saat ini, dari total korban, sebanyak 104 di antaranya berhasil diselamatkan, sementara proses identifikasi terus berlangsung agar seluruh korban dapat terdata.

Setiap langkah diambil untuk menghormati ingatan para korban dan memberikan kejelasan kepada keluarga yang terdampak.

Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU