Pemerintah Israel baru saja mengesahkan kesepakatan gencatan senjata yang berfokus pada penghentian agresi di Jalur Gaza dan pembebasan sandera. Keputusan ini diambil pada Jumat, 10 Oktober 2025, setelah mendapatkan persetujuan melalui pemungutan suara di parlemen.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Mendengar Aspirasi dan Tuntutan
Setelah ratifikasi ini, diharapkan agresi dapat dihentikan dalam waktu 24 jam, dan 48 tawanan Israel akan dibebaskan dalam 72 jam ke depan. Ini merupakan awal dari langkah damai yang telah lama ditunggu-tunggu.
Rincian dan Proses Gencatan Senjata
Kesepakatan gencatan senjata ini ditandatangani pada Kamis, 9 Oktober 2025, setelah melalui negosiasi yang cukup rumit. Sebuah pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Israel menyebutkan bahwa "Pemerintah baru saja menyetujui kerangka kerja pembebasan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal."
Gencatan senjata ini dirancang untuk menghentikan serangan dalam waktu 24 jam setelah ditandatangani dan mencakup penarikan sebagian pasukan Israel. Ini menjadi sebuah langkah strategis untuk mengurangi ketegangan yang telah berlangsung lama.
Tuntutan dan Kompromi dari Pihak Hamas
Salah satu aspek penting dari kesepakatan ini adalah tawaran dari Hamas untuk menukar 20 sandera yang masih hidup dengan 2.000 tahanan Palestina yang berada di penjara Israel. Menurut sumber dari negara Arab, Hamas juga meminta pembebasan pemimpin gerakan Fatah, Marwan Barghouti, yang saat ini menjalani hukuman seumur hidup.
Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024
Selain itu, terdapat pula permintaan dari Hamas untuk mengembalikan jenazah dua pemimpin mereka, Yahya Sinwar dan Mohammad Sinwar, yang saat ini berada dalam penguasaan Israel.
Kekhawatiran dan Tantangan di Balik Kesepakatan
Meskipun gencatan senjata telah disepakati, masih banyak pertanyaan yang menggantung tentang keberlanjutan dari kesepakatan tersebut. Pertanyaan tersebut meliputi kapan gencatan permanen akan dimulai dan bagaimana nasib Hamas ke depannya.
Rekam jejak Israel dalam melanggar kesepakatan di masa lalu dengan Hamas serta Hizbullah di Lebanon menambah keraguan terhadap keefektifan perjanjian ini. Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi masa depan Jalur Gaza.
Situasi Terkini di Gaza
Di tengah perayaan kesepakatan gencatan senjata, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa pasukan Israel terus melakukan serangan di wilayah tersebut. Laporan menyebutkan setidaknya 10 warga Palestina tewas dan 49 luka-luka sebagai dampak dari serangan yang sedang berlangsung.
Bantuan kemanusiaan juga direncanakan untuk dikirim ke Gaza, dengan sedikitnya 400 truk bantuan setiap hari, sebagai bagian dari fase pertama kesepakatan gencatan senjata.
Baca juga: Kunto Aji : Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Diterima Seutuhnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: