Elon Musk kembali menuai perhatian dengan seruan untuk melakukan boikot terhadap Netflix, yang ia anggap mempromosikan agenda LGBT melalui konten animasi untuk anak-anak.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis
Seruan ini memicu aksi di media sosial, dengan pengguna melaporkan penghentian langganan dan saham Netflix mengalami penurunan.
Kontroversi Boikot Netflix
Kampanye boikot yang digagas Elon Musk muncul setelah tayangan serial animasi 'Dead End: Paranormal Park' memperkenalkan karakter remaja transgender gay bernama Barney. Musk berpendapat bahwa konten tersebut berisiko untuk anak-anak, mengingat serial itu ber-rating TV-Y7, yang ditujukan untuk anak usia 7 tahun ke atas.
Respons Musk terhadap kritik yang ditujukan kepada sutradara 'Dead End', Hamish Steele, muncul setelah diduga mengejek kematian aktivis konservatif Charlie Kirk. Dalam upayanya untuk memengaruhi opini publik, Musk membagikan postingan dari akun konservatif dan mengajak pengikutnya untuk menghentikan langganan Netflix.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Reed Hastings: Pendiri Netflix
Reed Hastings, lahir pada 8 Oktober 1960, adalah otak di balik kesuksesan Netflix. Sebelum mendirikan perusahaan ini, ia memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan dan teknologi yang cukup beragam.
Inspirasi Hastings untuk mendirikan Netflix datang setelah ia didenda US$ 40 karena terlambat mengembalikan film ke Blockbuster. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk meluncurkan Netflix pada tahun 1997 sebagai layanan rental DVD melalui pos.
Pengaruh Kontroversi Terhadap Netflix
Kampanye boikot oleh Musk bukan kali pertama ia mengkritik Netflix. Dengan 226 juta pengikut di media sosial X, setiap seruan Musk berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap basis pelanggan Netflix.
Data awal menunjukkan penurunan jumlah pelanggan di AS sebagai akibat dari kampanye ini. Meskipun begitu, Netflix tetap bertahan sebagai pemimpin dalam industri streaming dengan lebih dari 100 juta pelanggan global.
Baca juga: Pertemuan Presiden Prabowo dengan Serikat Pekerja: Membahas Aspirasi Buruh dan Kebijakan Ekonomi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: