Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 22:05 WIB

Presiden Madagaskar Membubarkan Pemerintahan Setelah Protes Besar-Besaran

Author

Presiden Madagaskar Membubarkan Pemerintahan Setelah Protes Besar-Besaran

Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, telah memutuskan untuk membubarkan kabinetnya di tengah gelombang protes besar-besaran oleh generasi muda, yang dikenal sebagai Gen Z.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool

Keputusan ini diambil setelah berhari-hari demonstrasi yang dipicu oleh masalah pemadaman listrik dan air yang berkepanjangan serta meningkatnya kemiskinan di negara tersebut.

Pemicu Pembubaran Pemerintahan

Gelombang protes ini dimulai akibat pemadaman listrik dan air yang berkepanjangan, yang memicu kemarahan di kalangan anak muda Madagaskar. Ribuan demonstran berkumpul di berbagai wilayah negara, menyuarakan ketidakpuasan mereka.

Dalam pidato yang disiarkan melalui stasiun televisi lokal, Rajoelina mengatakan, "Kami mengakui dan meminta maaf jika pemerintah belum melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik."

Laporan dari World Bank menyebutkan bahwa sekitar 75 persen dari 30 juta penduduk Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan, menunjukkan kondisi sosial ekonomi yang memprihatinkan.

Akses terhadap listrik juga sangat terbatas, dengan hanya 36 persen penduduk yang memiliki akses yang andal. Kerusuhan ini mencerminkan rasa putus asa yang melanda masyarakat.

Kekacauan yang Mengikuti Protes

Protes yang dimulai oleh Gen Z berujung pada kerusuhan yang mengakibatkan sedikitnya 22 orang tewas, menurut laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus

Aksi penjarahan terjadi, dengan sasaran berbagai supermarket, toko kecil, dan bank. Bahkan, rumah-rumah milik politisi pun tidak luput dari amukan massa.

Pihak berwenang merespons dengan memberlakukan jam malam dan menerjunkan pasukan keamanan yang dilengkapi peluru karet untuk meredakan aksi protes. Selain itu, Rajoelina memecat Menteri Energi pada tanggal 26 September sebagai langkah tegas.

Rajoelina juga mengajak generasi muda untuk berdialog dan berjanji akan mengambil langkah-langkah untuk mendukung bisnis yang terdampak penjarahan.

Simbol Unjuk Rasa Gen Z

Para demonstran Gen Z mengibarkan bendera anime Jepang, One Piece, sebagai simbol ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah. Bendera ini menjadi simbol persatuan bagi generasi muda dalam berbagai aksi protes di seluruh dunia.

Protes serupa dengan bendera One Piece juga terjadi di negara-negara lain, seperti Indonesia, Filipina, Prancis, Nepal, dan Peru, yang menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintah bukan hanya lokal, melainkan global.

Rajoelina menyatakan, "Saya mendengar panggilan ini, saya merasakan penderitaan ini," mengakui kemarahan masyarakat terkait masalah pasokan listrik dan air.

Demonstrasi ini menjadi bukti kekuatan generasi muda dalam menyampaikan hak dan aspirasi mereka, yang berpotensi berpengaruh pada perubahan struktur pemerintahan dan kebijakan sosial di Madagaskar.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU