Diskusi Harga BBM Non-Subsidi Berlanjut, Stok Energi Nasional Aman
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pembahasan mengenai harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi antara pemerintah dan perusahaan masih berlangsung. Ia juga menjamin bahwa cadangan energi nasional saat ini dalam kondisi yang aman.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat
Menurut Bahlil, stok nasional BBM saat ini berada di atas 20 hari, sementara cadangan LPG lebih dari 10 hari. Ia mengingatkan masyarakat agar menggunakan energi ini secara bijak.
Bahlil menegaskan bahwa masa kritis terhadap pasokan energi akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah telah terlewati. Ia menekankan pentingnya penggunaan yang bijak oleh masyarakat terhadap BBM dan LPG.
Untuk menjaga ketersediaan energi, pemerintah menerapkan campuran 50% biodiesel pada solar, yang telah diuji coba pada berbagai alat transportasi. Hasil uji coba B50 menunjukkan kemajuan hingga 60% - 70%.
Proyek ini direncanakan akan diluncurkan pada 1 Juli, menjadikannya kebijakan negara untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Bahlil menganggap ini sebagai langkah penting untuk menjaga pasokan energi dalam negeri.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Mendengar Aspirasi dan Tuntutan
Terkait dengan impor BBM, Bahlil menjelaskan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor BBM jadi dari Timur Tengah, melainkan hanya crude oil. Diversifikasi sumber impor kini dilakukan dari negara-negara lain seperti Angola dan Amerika.
Namun, untuk BBM jenis bensin, Bahlil mengakui bahwa Indonesia masih bergantung pada impor dari beberapa negara tertentu. Kebutuhan tahunan untuk bensin diperkirakan mencapai sekitar 20-22 juta kiloliter.
Laporan Sekretaris Ditjen Migas menunjukkan porsi impor minyak bensin dapat mencapai 60,18% dari total kebutuhan pada tahun 2025. Sumber utama impor berasal dari Singapura, diikuti oleh Malaysia dan Oman.
Rizwi, Sekretaris Ditjen Migas, mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan kebutuhan minyak solar. Meskipun demikian, pemerintah efektif menekan impor dari 12,17% pada tahun 2025 menjadi hanya 6,26% pada Februari 2026.
Total kebutuhan minyak solar diprediksi mencapai 110.932 KL per hari pada tahun 2025, sementara pada Februari 2026, angka tersebut meningkat menjadi 111.356 KL per hari. Singapura dan Malaysia masih menjadi sumber utama impor solar.
Data menunjukkan bahwa porsi impor solar dari Singapura mencapai 58,56%, sedangkan Malaysia di angka 36,56%. Hal ini menunjukkan langkah efektif pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: