Dampak Musik terhadap Kesehatan Mental: Mengungkap Hubungan Kecemasan dan Musik
Sebuah fenomena unik muncul ketika seorang perempuan menceritakan pengalamannya mengalami kecemasan saat mendengarkan lagu tertentu di tempat umum.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus
Fenomena ini menekankan bagaimana musik dapat menjadi pemicu trauma emosional yang tersembunyi, menunjukkan hubungan yang rumit antara musik dan kesehatan mental.
Musik memiliki kekuatan untuk memicu kecemasan karena otak mengingat bukan hanya informasi, tetapi juga emosi dan sensasi. Amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab akan ancaman, bisa dengan cepat bereaksi saat mendengar lagu yang berkaitan dengan pengalaman traumatis sebelumnya.
Begitu lagu tersebut diputar, otak memicu respons 'fight-or-flight', membuat tubuh bereaksi seolah ada bahaya. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan riwayat trauma atau PTSD dapat mengalami gejala kecemasan seperti jantung berdebar dan sesak napas ketika mendengarkan musik tertentu.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology dan Frontiers in Psychiatry mengkonfirmasi bahwa teknik grounding seperti fokus pada napas atau benda sekitar dapat membantu meredakan kecemasan saat menghadapi pemicu.
Respons ini merupakan reaksi biologis yang terjadi pada sistem saraf dan menunjukkan bahwa setiap orang bisa memiliki pemicu yang berbeda.
Lingkungan sosial memiliki dampak besar pada proses pemulihan trauma seseorang. Respon dari orang-orang terdekat dapat menentukan apakah seseorang merasa aman atau semakin tertekan saat menghadapi trauma.
Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus
Kurangnya dukungan emosional, atau bahkan pembelaan terhadap pelaku, bisa memperparah kondisi, yang dikenal dengan istilah secondary trauma. Penelitian dalam Journal of Anxiety Disorders menunjukkan bahwa penyintas yang tidak mendapat validasi dari lingkungan sekitar cenderung mengalami kecemasan yang lebih parah.
Sebagian besar proses pemulihan bergantung pada dukungan yang diterima. Hal ini sangat penting untuk menciptakan rasa aman yang memungkinkan individu untuk pulih dengan lebih efektif.
Dalam konteks ini, menghormati batasan dan menghindari pemicu berulang menjadi langkah penting bagi penyintas.
Serangan kecemasan yang terjadi akibat pemicu tidak selalu memerlukan intervensi medis, tetapi ada ciri tertentu yang menunjukkan perlunya bantuan profesional. Gejala yang mengulang atau semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari menjadi tanda penting untuk mencari pertolongan.
Panduan klinis dalam Journal of Anxiety Disorders merekomendasikan agar individu mencari bantuan ketika mengalami serangan cemas disertai gejala fisik berat, seperti sesak napas atau jantung berdebar kencang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: