Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghadapi reaksi keras terkait pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol
Ia berpendapat bahwa kritik yang muncul hanyalah cerminan rasa iri sejumlah ekonom yang merasa lebih pantas untuk diangkat.
Pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menimbulkan berbagai kontroversi, terutama tentang independensi bank sentral.
Kedekatan Thomas dengan jabatan politik sebagai bendahara umum Partai Gerindra dan hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan utama.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa jabatan ini seharusnya diisi oleh pejabat karir yang berpengalaman di BI.
Ia menegaskan, "Pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI adalah kemunduran pasca reformasi 98."
Menanggapi kritik yang muncul, Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa Thomas Djiwandono diharapkan akan mundur dari jabatannya di Partai Gerindra setelah resmi bertugas di BI.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Ia berkomentar, "Dia tidak akan di Gerindra lagi, kalau dugaan saya ya, atau di Gerindra pun di belakang."
Purbaya juga menegaskan bahwa keputusan di BI adalah hasil dari diskusi kolektif di antara anggota Dewan Gubernur.
Ia menambahkan, "Dugaan saya sih harus selalu kompromi, kompromi tuh musyawarah mufakat ya."
Kolektivitas dalam pengambilan keputusan di BI, menurut Purbaya, adalah kunci untuk menjaga independensi lembaga tersebut.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan bahwa keterlibatan politik di dalam BI bisa menimbulkan ancaman bagi stabilitas moneter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: