Pelaku Pembunuhan Anak Politisi di Cilegon Terungkap Sebagai Spesialis Pencuri
Pelaku pembunuhan anak seorang politisi di Cilegon akhirnya ditangkap oleh kepolisian setelah lebih dari dua minggu dalam pelarian. Penangkapan terjadi saat pelaku berinisial HA (30) mencoba mencuri di rumah mantan anggota DPRD Cilegon, Roisyudin Sayuri.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap: Kontroversi Penghasutan dan Kebebasan Sipil
Kapolda Banten, Irjen Hengki, mengungkapkan bahwa penyidik masih mendalami peran pelaku dalam kasus ini. Ia menegaskan, 'Masih diperiksa, masih kami dalami. Sudah ditangkap, nanti akan kami rilis lengkap.'
Selama proses penyelidikan, diketahui bahwa HA merupakan spesialis pencurian rumah mewah yang sedang kosong. Ia dilaporkan sudah mencuri di rumah Roisyudin sebanyak dua kali tanpa tertangkap, sebelum akhirnya ditangkap saat mencoba lagi.
Dalam proses penangkapan tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa perhiasan hasil curian sebelumnya dan alat pemanas gembok yang digunakannya untuk membuka brankas. Modus operandi pelaku menunjukkan bahwa ia menyasar rumah-rumah dengan nilai tinggi yang sedang ditinggal penghuninya.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Kapolda Hengki menegaskan pentingnya koordinasi antara berbagai pihak dalam menangani kasus ini agar kejadian serupa tidak terulang.
Pembunuhan terhadap anak Maman Suherman terjadi ketika pelaku sedang melakukan pencurian dan terkejut oleh kehadiran penghuni rumah. Proses pembunuhan tersebut sangat brutal; bocah kelas IV SD ditemukan dengan 19 tusukan.
Penyidik mencatat bahwa HA tidak memiliki hubungan pribadi dengan keluarga korban. Kapolda Hengki menjelaskan, 'Bukan orang dekat dan tidak kenal dengan keluarga korban,' menegaskan bahwa tindakan pelaku merupakan aksi kriminal yang tidak melibatkan pihak lain.
Dari penyelidikan yang lebih mendalam, terungkap bahwa HA berasal dari Palembang, Sumatera Selatan dan bekerja di perusahaan petrokimia besar di Cilegon. Ia memiliki kartu anggota serikat pekerja yang menjadi identitasnya.
Anak-anak di sekitar lokasi kejadian menyatakan ketakutan setelah peristiwa tersebut terjadi. Kejadian kriminal ini merusak anggapan masyarakat tentang keamanan lingkungan, sehingga mereka meminta pihak berwenang untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan.
Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: