Banjir dan Tanah Longsor Melanda 11 Kabupaten di Sumatera Utara
Banjir dan tanah longsor telah meluas ke 11 kabupaten dan kota di Sumatera Utara, memberikan dampak yang sangat mengkhawatirkan. Hingga kini, bencana ini telah merenggut 24 nyawa, dengan lima orang lainnya masih dalam pencarian.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Beberapa daerah terdampak termasuk Mandailing Natal, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Serdangbedagai, dan Tapanuli Tengah, di mana tercatat 86 kejadian bencana, termasuk 59 tanah longsor.
Kombes Ferry Walintukan, Kabid Humas Polda Sumut, melaporkan bahwa bencana ini telah menyebabkan total 72 korban terdampak. Dari jumlah tersebut, 24 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia, enam lainnya mengalami luka berat, dan 37 mengalami luka ringan.
Daerah yang merasakan dampak paling signifikan adalah Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Pakpak Bharat, dan Tapanuli Tengah. Penanganan bencana menjadi semakin mendesak karena curah hujan tinggi yang masih berlanjut.
Kondisi ini mendorong pemerintah daerah dan institusi terkait untuk segera melakukan penanganan efisien demi keselamatan warga. Dengan situasi yang mengkhawatirkan, perhatian publik pun semakin terfokus pada upaya pemulihan.
Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus
Polda Sumut telah menerjunkan 492 personel untuk menangani situasi darurat ini. Tim yang terdiri dari berbagai satuan, termasuk Satbrimob dan Dit Samapta, fokus kepada evakuasi dan pencarian korban.
Di Tapanuli Selatan, upaya pencarian satu warga yang hilang terus dilakukan oleh tim gabungan. Sementara itu, di Kota Sibolga, operasi pencarian korban tetap berlangsung untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di lokasi berbahaya.
Mobilisasi sumber daya ini menunjukkan komitmen instansi untuk melindungi masyarakat. Penanganan ini tidak hanya berfokus pada evakuasi, tetapi juga pemulihan segera bagi daerah yang terdampak.
Kombes Ferry menambahkan bahwa curah hujan yang tinggi menjadi faktor utama pemicu bencana ini. Ketinggian air di beberapa titik tercatat masih mencapai satu meter, dengan hujan intensitas sedang hingga lebat masih terpantau.
Polda Sumut juga telah menerima laporan mengenai potensi longsor susulan di daerah yang berbukit. Ini menjadi perhatian ekstra, mengingat kondisi alam yang masih dapat memicu bencana lanjutan.
Sinergi antara Polri, TNI, BPBD, dan relawan menjadi kunci dalam penanganan bencana ini dan mitigasi risiko ke depannya. Upaya kolaboratif diharapkan dapat meminimalisir dampak dari potensi bencana yang ada.
Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke RS Polri: Memantau Korban Aksi Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: