Merger Grab dan GOTO: Danantara Menjadi Pemain Penting
Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan terlibat dalam pembahasan merger antara Grab dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Proses ini akan mempertimbangkan aspek business-to-business (B2B) yang sangat penting.
Baca juga: Korea Selatan U-23 Siap Tantang Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2026
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menekankan bahwa keputusan akhir mengenai merger ada di tangan kedua perusahaan. Ia juga mengingatkan perlunya mengikuti masukan pemerintah demi menjaga aspek B2B yang krusial.
Dalam pernyataan di Wisma Danantara, Pandu Sjahrir menekankan pentingnya aspek B2B dalam proses merger antara Grab dan GOTO. "Kita serahkan balik ke perusahaan yang masing-masing. Kan pemerintah juga udah ngasih masukan, kita pasti ngikutin masukannya dari pemerintah," jelasnya.
Ia juga menggarisbawahi keterlibatan Danantara dalam menyukseskan proses tersebut. "Mereka harus ngikuti B2B, kita lihat prosesnya, nantinya kita pasti akan support," tambahnya, menunjukkan bahwa profitabilitas akan menjadi salah satu pertimbangan.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen Danantara untuk mendukung proses merger, dengan perhatian pada kepentingan bersama kedua perusahaan.
Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus
Pandu Sjahrir mengingatkan bahwa baik Grab maupun GOTO adalah perusahaan terbuka terdaftar di bursa saham, sehingga kehati-hatian sangat diperlukan. "Tentu kita harus fokus B2B antara kedua perusahaan itu, dan jangan lupa mereka berdua perusahaan Tbk, jadi harus hati-hati kita ngomongnya," ujarnya.
Kehati-hatian ini mencakup berbagai aspek, termasuk kepatuhan terhadap regulasi pasar modal serta menjaga kepercayaan investor.
Pentingnya langkah yang hati-hati dalam proses merger diakui oleh banyak pihak, terutama mengingat volatilitas pasar yang dapat memengaruhi keputusan akhir.
Direktur Legal dan Group Corporate Secretary GOTO, R. A Koesoemohadiani, menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada keputusan resmi terkait merger dengan Grab. Ia mengungkapkan, setiap langkah yang diambil GOTO akan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
"Hingga saat ini belum ada suatu keputusan ataupun kesepakatan terkait hal tersebut. Setiap langkah yang diambil oleh GoTo akan senantiasa patuh terhadap peraturan perundang-undangan," katanya, menegaskan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi.
Koesoemohadiani menjelaskan bahwa GOTO berada pada posisi yang kuat, mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp 62 miliar. Hal ini menunjukkan kemajuan profitabilitas perusahaan yang berkelanjutan dan optimisme terhadap masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: