Usulan Soeharto Menjadi Pahlawan Nasional Mendapatkan Dukungan di DPR
Usulan untuk mengangkat Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia, sebagai pahlawan nasional kini mendapatkan dukungan besar dari fraksi-fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hal ini disampaikan oleh putri keempat Soeharto, Titiek Soeharto, saat berada di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Karanganyar.
Baca juga: Pertemuan Presiden Prabowo dengan Serikat Pekerja: Membahas Aspirasi Buruh dan Kebijakan Ekonomi
Titiek mengekspresikan rasa syukur keluarganya atas dukungan tersebut, meskipun ada fraksi yang mungkin tidak setuju. 'Alhamdulillah kami bersyukur dari keluarga, bersyukur kalau pemerintah berkenan,' tuturnya.
Titiek Soeharto memberikan dukungan kuat terhadap pengusulan ayahnya sebagai pahlawan nasional, usai berziarah di makamnya di Giribangun, Karanganyar. 'Dengan dukungan masyarakat seluruhnya berkenan untuk memberikan gelar pahlawan nasional untuk almarhum Pak Harto,' ujarnya.
Kunjungan Titiek ke Polres Karanganyar tersebut dilaksanakan dengan rasa syukur keluarga, berkenaan dengan kemungkinan pengakuan sebagai pahlawan. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa usulan untuk mengangkat Soeharto menggalang respon serius dari banyak pihak.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Meski didukung banyak fraksi, Titiek menyebutkan terdapat satu fraksi di DPR yang menolak usulan pahlawan nasional untuk Soeharto. 'Nggak dibahas, semua fraksi sudah setuju cuma kecuali mungkin satu fraksi yang enggak,' tuturnya.
Saat dimintai keterangan lebih lanjut mengenai fraksi yang menolak, Titiek memilih untuk tidak memberikan komentar dan meninggalkan lokasi. Kejadian ini mencerminkan adanya perbedaan pendapat di kalangan partai politik tentang pengakuan tersebut.
Kementerian Sosial (Kemensos) Indonesia juga telah mengajukan sekitar 40 nama tokoh nasional untuk dipertimbangkan sebagai pahlawan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa sebagian dari nama tersebut merupakan hasil pembahasan bertahun-tahun.
Pengusulan ini dilakukan melalui seleksi berlapis yang melibatkan berbagai unsur masyarakat hingga tim ahli tingkat pusat. Selain Soeharto, beberapa nama yang diusulkan meliputi Abdurrahman Wahid, aktivis buruh Marsinah, dan Jenderal (Purn) M. Jusuf.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: