Fenomena Over-Sharing di Media Sosial: Antara Ekspresi Diri dan Pencarian Validasi
Fenomena over-sharing di media sosial semakin marak belakangan ini, menimbulkan berbagai pertanyaan tentang motivasi di baliknya. Dari foto-foto ala artis hingga curahan hati harian, pengguna seakan ingin berbagi setiap detil kehidupan mereka.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Mendengar Aspirasi dan Tuntutan
Psikologi di balik perilaku ini biasanya menarik perhatian pakar karena bisa menjadi bentuk ekspresi diri, sementara di sisi lain, menjurus pada pencarian validasi dari orang lain.
Salah satu motivasi utama dari orang yang suka over-share adalah kebutuhan untuk diterima. Dalam konteks ini, mereka merasa lebih dekat dengan teman-teman secara virtual melalui pengalaman yang mereka bagikan.
Beberapa individu berbagi sebagai cara untuk mengatasi masalah pribadi atau emosional. Seorang psikolog, Dr. Aditya mengatakan, “Mereka mungkin merasa lebih ringan setelah membagikan”, menggambarkan bagaimana berbagi bisa menjadi bentuk pelepasan atau coping mechanism.
Namun, tidak semua orang yang over-share memiliki niat untuk mengganggu. Bagi mereka, hal ini adalah cara untuk memperkuat identitas diri mereka di dunia online.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap: Kontroversi Penghasutan dan Kebebasan Sipil
Meski over-sharing bisa menimbulkan keintiman dalam hubungan, ada risiko yang perlu dicermati. Informasi pribadi yang berlebihan bisa disalahgunakan, atau bahkan menciptakan kesan kurang profesional.
Dampaknya juga bisa berlanjut ke kesehatan mental; terlalu banyak perhatian yang didapatkan dari ‘likes’ dan komentar bisa menghasilkan ketergantungan. Penelitian menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap umpan balik positif dan negatif dapat memengaruhi citra diri seseorang secara signifikan.
Sebagian orang mungkin juga merasa terasing ketika situasi di dunia nyata tidak sesuai dengan apa yang mereka gambarkan di media sosial, sehingga menciptakan ketegangan antara ekspektasi dan kenyataan.
Salah satu ciri khas orang yang sering over-share adalah kecenderungan untuk membagikan pengalaman intim atau emosional dalam konteks umum. Ini bisa meliputi masalah keluarga, hubungan percintaan, hingga masalah kesehatan.
Mereka juga sering menggunakan media sosial sebagai jurnal pribadi, di mana setiap pikiran atau perasaan langsung dituliskan dan dibagikan. Seperti dikatakan oleh seorang ahli komunikasi, “Media sosial telah menjadi ruang privat yang publik”.
Namun, bukan berarti semua yang berbagi di medsos adalah over-sharer. Ada perbedaan antara berbagi untuk berkontribusi dengan berbagi sekadar untuk menarik perhatian.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: