Kritik dan Pujaan: Kisah Berbeda di Balik Avatar: Fire and Ash
Film terbaru karya James Cameron, Avatar: Fire and Ash, menunjukkan ketidaksesuaian antara penilaian kritikus dan penonton.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol
Meskipun menerima kritik pedas, penggemar tetap memberikan skor tinggi di berbagai platform penilaian.
Dengan perolehan skor 66 persen dari 307 kritikus di Rotten Tomatoes, Avatar: Fire and Ash menjadi film dengan penilaian terendah dalam saga Avatar.
Kritikus menyoroti bahwa film ini terjebak dalam visual yang memukau tanpa cerita yang dalam. Stephanie Zacharek dari TIME Magazine mengungkapkan, "visi Cameron tidak lagi terasa sebagai masa depan, melainkan sebuah perjalanan nostalgia, bentuk deja vu yang sangat mahal."
Peter Bradshaw dari Guardian menambahkan, "Avatar tetap sama besarnya dalam ketidakmenarikan dan sama kolosalnya dalam ketahanan terhadap kritik seperti sebelumnya: sebuah bangunan besar yang kosong, yang dengan tenang menolak segala keberatan."
Nicholas Barber dari BBC.com juga memberikan penilaian pedas dengan menyebut film tersebut sebagai "197 menit grafis seperti screensaver, dialog kaku, alur cerita yang menggelembung dan longgar," melahirkan keraguan atas sekuel yang akan datang.
Di balik kritik, beberapa kritikus tetap mengakui keahlian James Cameron dalam menggarap film ini. Jake Coyle dari Associated Press mencatat bahwa "ini tetap merupakan epik dalam hal keterampilan dan keyakinan," menyoroti komitmen Cameron dalam membangun dinamika karakternya.
Baca juga: Kasus Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online: Menuju Jalur Pidana
Sementara itu, David Ehrlich dari IndieWire menekankan bagaimana meskipun film ini mengikuti pola yang sama, Cameron berhasil menciptakan momen-momen tertentu yang terasa baru. "[Ekspektasi] tidak mempersiapkan saya pada kenyataan menyaksikan salah satu penjelajah terbesar sinema berjalan berputar-putar selama tiga jam," paparnya.
Pandangan yang beragam ini menunjukkan kekaguman pada keahlian teknis yang ditampilkan dalam film meskipun ada kendala dalam narasi.
Film ini tetap menunjukkan minat yang mendalam terhadap karakter-karakternya, yang menjadi salah satu aspek yang sangat dihargai dalam penggarapan.
Meskipun banyak kritikus memberikan penilaian negatif, penonton menunjukkan antusiasme dengan memberikan skor 91 persen di Popcornmeter. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian persepsi antara kritikus dan audiens.
Beberapa penonton pun memberikan tanggapan terhadap kritik tersebut, menyatakan bahwa kemiripan cerita dengan film sebelumnya adalah hal yang wajar karena merupakan sekuel. Mereka menghargai cara Cameron mengembangkan karakter dan plot, meski dianggap sederhana oleh sejumlah kritikus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: