Jumat, 10 OKTOBER 2025 • 18:05 WIB

Masalah Jatuhnya Satelit Starlink: Ancaman Baru di Antara Kita

Author

Masalah Jatuhnya Satelit Starlink: Ancaman Baru di Antara Kita

Ambisi Elon Musk untuk mengisi orbit Bumi dengan konstelasi satelit Starlink kini menimbulkan masalah baru, yaitu jatuhnya satelit-satelit tersebut ke permukaan Bumi secara berkala.

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Baru untuk Talenta Indonesia

Sehari-harinya, 1-2 satelit Starlink jatuh ke Bumi, dan angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan peluncuran satelit-satelit baru.

Jumlah Satelit yang Jatuh Terus Meningkat

Jonathan McDowell, seorang ahli astrofisika di Smithsonian, menyatakan bahwa setiap satelit Starlink memiliki siklus hidup sekitar lima tahun.

Dengan perhitungan tersebut, dia memperkirakan bahwa lima satelit usang akan jatuh setiap harinya, yang tentunya menambah risiko bagi permukaan Bumi.

Sejak peluncuran pertamanya pada 2019, SpaceX telah meluncurkan sekitar 8.000 satelit Starlink untuk menyediakan infrastruktur internet.

Namun, angka peluncuran ini menimbulkan potensi jatuhnya satelit yang semakin meningkat, menciptakan tantangan baru bagi keselamatan manusia dan lingkungan.

Risiko Serpihan dan Implikasi Lingkungan

Laporan dari Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) menyebutkan bahwa kemungkinan sekitar 28.000 serpihan satelit akan menembus atmosfer setiap tahun pada 2025.

Baca juga: Transfer Kiper Baru Jadi Sorotan Manchester United dan Manchester City

Dengan meningkatnya jumlah serpihan tersebut, risiko terhadap keselamatan manusia pun meningkat, bahkan ada kemungkinan 61 persen cedera atau kematian akibat serpihan satelit ini.

Di samping risiko tersebut, proses pembakaran satelit saat memasuki atmosfer dapat memproduksi elemen logam yang berpotensi merusak lapisan ozon.

McDowell menegaskan, 'Ketidakpastian soal masalah ini cukup besar, ada kemungkinan seluruh atmosfer lapisan atas rusak.'

Sindrom Kessler: Ancaman yang Lebih Besar

Di balik jatuhnya satelit, ada ancaman yang lebih besar, yaitu sindrom Kessler, yang terjadi akibat orbit yang penuh sesak dengan satelit.

Ketika beberapa satelit bertabrakan, dampaknya dapat memicu serangkaian tabrakan antara satelit lainnya, menghasilkan lebih banyak sampah di orbit.

Fenomena ini merugikan dan dapat menciptakan medan bahaya yang mengelilingi Bumi, semakin memperburuk situasi yang sudah kritis.

Sindrom Kessler kini menjadi perhatian serius bagi ilmuwan dan pihak berwenang untuk mencegah lingkungan luar angkasa menjadi semakin tidak berkelanjutan.

Baca juga: Sherina Munaf Menyelamatkan Kucing di Tengah Kontroversi Perampokan Rumah Uya Kuya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU