Menuju Kecerdasan Umum: Inovasi dan Tantangan dalam Teknologi AI
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mencapai titik kritis, dengan harapan akan tercapainya artificial general intelligence (AGI) di depan mata. Inovasi ini diyakini akan memberi dampak signifikan pada berbagai sektor kehidupan.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat
Sam Altman, CEO OpenAI, baru-baru ini menyatakan keyakinannya bahwa AGI, yang merupakan model AI setara dengan kecerdasan manusia, semakin dekat untuk diwujudkan. Menurutnya, pencapaian ini akan merevolusi cara kita berinteraksi dengan teknologi.
Artificial General Intelligence (AGI) merupakan langkah besar dalam evolusi teknologi AI. Ketika mencapai tahap ini, AI tidak lagi perlu dilatih secara terus-menerus, melainkan bisa beradaptasi dengan situasi baru dan mentransfer kemampuannya.
Dalam wawancara, Sam Altman menyebut bahwa, 'Kecerdasan super (ASI) juga akan tersedia dalam waktu dekat,' mengisyaratkan bahwa AI akan melampaui manusia dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Pencapaian ini dinilai sebagai sesuatu yang bisa membawa dampak positif di bidang kesehatan, pendidikan, dan industri lainnya. Prediksi ini menunjukkan bahwa masyarakat harus siap menghadapi perubahan yang terjadi.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Di dalam diskusi mengenai pengembangan AI, Altman juga mengangkat isu penting mengenai konsumsi sumber daya, khususnya air yang digunakan oleh pusat data. Ia membantah kabar yang menyebutkan bahwa penggunaan AI seperti ChatGPT menghabiskan banyak air per kueri.
"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar, benar-benar gila, tidak ada hubungannya dengan kenyataannya," terang Altman.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kekhawatiran terhadap konsumsi energi yang lebih besar saat ini memang perlu diperhatikan, dengan adanya pendapat untuk beralih ke sumber energi terbarukan seperti energi nuklir, angin, dan matahari.
Dalam sesi wawancara, Altman juga menanggapi gagasan tentang pusat data yang beroperasi di luar angkasa. Ia menyimpulkan bahwa konsep tersebut tidak layak untuk diterapkan dalam waktu dekat.
"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," ujarnya.
Pernyataan ini menyoroti tantangan serta batasan yang harus dihadapi dalam pengembangan teknologi AI dan infrastruktur yang diperlukan.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: