Lebih dari 3.500 tentara Amerika Serikat telah tiba di Timur Tengah pada Sabtu, 28 Maret 2026, termasuk kapal induk USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 personel Marinir.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Kedatangan ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya intensitas konflik yang terjadi di Iran, yang menyebabkan ketegangan di kawasan tersebut.
Kedatangan Kapal Induk USS Tripoli
Menurut data dari Komando Pusat AS (CENTCOM), kapal USS Tripoli, yang merupakan bendera untuk Tripoli Amphibious Ready Group dan 31st Marine Expeditionary Unit, telah mendarat di area tanggung jawabnya.
Kapal induk ini adalah versi terbaru dari jenis kapal 'big deck', yang dirancang dengan lebih banyak ruang untuk jet tempur siluman F-35, Osprey, dan pesawat tempur lainnya.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Eskalasi Operasi Militer
Operasi militer yang dikenal dengan nama Operasi Epic Fury telah diluncurkan, dengan laporan menyebutkan bahwa lebih dari 11.000 target berhasil diidentifikasi dan diserang sejak awal operasi.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa mereka yakin target militer dapat dicapai tanpa melibatkan pasukan darat secara langsung. 'Amerika Serikat dapat memenuhi tujuannya tanpa pasukan darat mana pun,' ujarnya.
Keterlibatan Pemberontak Houthi dan Dampaknya
Situasi di Timur Tengah semakin rumit dengan keterlibatan pemberontak Houthi yang didukung Iran, yang melancarkan serangan ke wilayah Israel.
Brigadir Jenderal Yahya Saree mengonfirmasi bahwa serangan kedua ke Israel terjadi bersamaan dengan serangan dari Iran dan Hizbullah, yang menambah tingginya ketegangan di kawasan.
Baca juga: Kunto Aji : Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Diterima Seutuhnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: