Monumen raksasa yang terletak di dasar laut Jepang kembali jadi sorotan setelah penemuannya oleh Kihachiro Aratake pada tahun 1986. Struktur ini, yang terletak 25 meter di bawah permukaan laut, memiliki formasi batuan yang unik dan menyerupai tangga.
Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024
Penemuan ini memicu berbagai spekulasi dan hipotesis dari para ilmuwan mengenai asal-usulnya. Beberapa percaya bahwa struktur ini mungkin merupakan peninggalan manusia purba atau bahkan sisa dari benua yang hilang.
Penemuan Monumen Yonaguni
Kihachiro Aratake, seorang penyelam dan direktur asosiasi pariwisata setempat, menceritakan bahwa penemuan Monumen Yonaguni terjadi secara tak terduga. "Sekitar 35 tahun yang lalu, saat saya sedang mencari titik penyelaman, saya menemukannya secara kebetulan," ujarnya dalam wawancara dengan BBC pada tahun 2022.
Struktur tersebut memiliki formasi menyerupai piramida dengan tangga yang dipahat, yang dianggap Aratake sebagai harta karun berharga bagi Pulau Yonaguni. "Saya sangat emosional ketika menemukannya. Setelah menemukannya, saya menyadari bahwa ini akan menjadi harta karun Pulau Yonaguni," tambahnya.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Hipotesis Mengenai Asal Usul
Setelah penemuan tersebut, Aratake menghubungi ilmuwan dari Universitas Ryūkyūs untuk meneliti lebih lanjut. Masaaki Kimura, seorang ahli biologi kelautan, mengungkapkan bahwa Monumen Yonaguni bisa jadi bagian dari benua Mu yang hilang, menghampiri teori mengenai benua hipotetis Lemuria.
Terdapat pula anggapan bahwa struktur ini mungkin diciptakan antara 10.000 hingga 14.000 tahun lalu, sebelum munculnya peradaban yang kita kenal. Teori ini sering diasosiasikan dengan legenda Atlantis, semakin melengkapi cerita di balik monumen tersebut.
Pandangan Ahli Geologi
Sejumlah ahli geologi mempelajari lebih dalam asal-usul Monumen Yonaguni. Robert Schoch, profesor dari Boston University yang juga telah menyelam di lokasi tersebut, menunjukkan keraguan mengenai kemungkinan struktur itu buatan manusia.
"Saya tidak yakin bahwa salah satu fitur atau struktur utama adalah tangga atau teras buatan manusia, tetapi semuanya alami," ungkap Schoch. Ia menjelaskan bahwa struktur tersebut mungkin merupakan hasil proses geologi alam yang melibatkan teknik stratigrafi klasik untuk batu pasir.
Schoch menambahkan bahwa kelurusan tepi yang muncul bisa jadi akibat aktivitas tektonik, menyiratkan bahwa struktur ini dapat menjadi produk alam. "Di permukaan, saya juga menemukan cekungan dan rongga yang terbentuk secara alami yang tampak persis seperti 'lubang tiang' yang diduga oleh beberapa peneliti," ucapnya.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengguncang Bursa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: