Senin, 09 MARET 2026 • 12:57 WIB

Harga Minyak Global Melonjak Melewati USD 100 per Barel di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Author

Harga Minyak Global Melonjak Melewati USD 100 per Barel di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Harga minyak mentah dunia kini telah resmi melampaui USD 100 per barel pada Minggu, 8 Maret. Lonjakan ini terjadi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan

Angka ini menjadi yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, dan dampaknya mulai terasa di pasar keuangan global. Harga minyak mentah Brent tercatat naik sebesar 12,63 persen, sementara minyak mentah AS mengalami peningkatan hingga 14,7 persen.

Lonjakan Harga Minyak dan Implikasinya

Peningkatan harga minyak mentah yang signifikan ini menjadi perhatian utama, terutama menyangkut dampak jangka panjang dari konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga ini mendorong kekhawatiran investor mengenai stabilitas pasar energi.

Harga minyak acuan jenis Brent mencatat kenaikan tajam menjadi USD 104 per barel. Sementara itu, untuk minyak mentah AS, kenaikan mencapai titik tertinggi dengan prosentase 14,7, menciptakan gejolak di pasar finansial.

Kini, kondisi ini bisa berpotensi mengguncang pasar energi global dan memicu inflasi, khususnya di AS. Penurunan indeks saham juga mulai terlihat, dengan Dow Jones merosot 851,6 poin atau sekitar 2 persen.

Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup

Respons Pemerintah AS dan Pihak Terkait

Merespons lonjakan harga yang mengkhawatirkan ini, pemerintah AS berusaha menenangkan pasar dengan menyebut peningkatan harga bensin adalah 'gangguan kecil'. Komentar dari Presiden Donald Trump juga menambah sisi pandang politik dalam situasi ini. Ia menyebut bahwa lonjakan harga minyak merupakan 'pengalihan' yang sudah diprediksi sebelumnya.

Di sisi lain, Menteri Energi Chris Wright menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menyerang infrastruktur energi Iran meski konflik masih berlangsung. Keputusan ini diambil untuk menilai dan merespons situasi yang ada di medan konflik.

Sementara itu, pejabat senior Iran mengingatkan bahwa konflik ini telah memasuki 'fase baru', menambah ketegangan dengan peringatan akan kemungkinan adanya balasan terhadap serangan yang dilakukan.

Dampak Ekonomi dan Fiskal

Lonjakan harga minyak mentah ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memengaruhi perekonomian secara keseluruhan, khususnya anggaran negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan stres tes untuk mengevaluasi dampak lonjakan harga ini terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Dari analisis tersebut, jika harga minyak bertahan di level rata-rata USD 92 per barel, defisit APBN diperkirakan akan melebar hingga 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, banyak produsen minyak mulai mempertimbangkan untuk mengurangi hasil produksi karena terbatasnya ruang penyimpanan. Keputusan ini memiliki potensi besar untuk mempengaruhi pasokan pasar, yang dapat memperburuk dampak inflasi yang sedang terjadi.

Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU