Presiden Prabowo Subianto memilih untuk tidak terburu-buru dalam menentukan langkah Indonesia terkait keanggotaan Dewan Perdamaian di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat
Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, menekankan bahwa Prabowo ingin memanfaatkan BoP sebagai alat untuk merundingkan perdamaian sebelum mempertimbangkan untuk keluar.
Strategi Indonesia di Dewan Perdamaian
Nusron Wahid menegaskan bahwa Dewan Perdamaian adalah forum strategis yang penting untuk membahas isu perdamaian dunia. Ia mengatakan bahwa Prabowo mempertanyakan kontribusi Indonesia jika tidak ada forum diplomatik yang bisa diakses.
Ia menambahkan, 'Jika ada yang mendesak kita keluar dari BoP, lalu dimana kita berunding untuk menciptakan perdamaian? Di mana forum untuk perundingan di Palestina dan Gaza?'
Nusron juga menegaskan bahwa 'Indonesia bersama delapan negara lainnya bersepakat untuk menggunakan forum ini. Ini adalah ikhtiar menuju perdamaian yang penting untuk dicoba.'
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Pulih
Respons terhadap Desakan Masyarakat
Dalam situasi yang tidak menentu ini, Nusron menegaskan bahwa pemerintah mendengarkan suara masyarakat yang meminta agar Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian. Setiap keputusan yang diambil akan dipertimbangkan dengan matang seiring dengan perkembangan yang terjadi.
"Pemerintah tidak anti kritik. Kami mencermati keadaan dan akan membuktikan bahwa diplomasi adalah cara terbaik untuk menciptakan perdamaian," ujarnya.
Nusron menambahkan, 'Kami tidak ingin terbawa emosi, tetapi ingin melihat hasil nyata dari usaha diplomasi ini, bukannya mengandalkan peperangan.'
Desakan Keluar dari Dewan Perdamaian
Desakan untuk menarik diri dari BoP muncul setelah serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut, yang menyebabkan banyak korban jiwa termasuk tokoh penting Iran, dianggap mencerminkan ketidakberhasilan Dewan Perdamaian dalam menjaga stabilitas.
Beberapa pihak berpendapat bahwa lembaga yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump tersebut hanyalah 'omong kosong' dan tidak efektif dalam menciptakan stabilitas global.
Dalam konteks ini, BoP diakui sebagai alternatif bagi Dewan Keamanan PBB, yang dianggap oleh Trump tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik, dan berambisi untuk menyelesaikan konflik di Gaza.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: