Selasa, 03 MARET 2026 • 22:30 WIB

Tantangan Meningkatnya Obesitas di Indonesia: Edukasi dan Kesadaran Masyarakat Penting

Author

Tantangan Meningkatnya Obesitas di Indonesia: Edukasi dan Kesadaran Masyarakat Penting

Hari Obesitas Sedunia yang jatuh pada 4 Maret menjadi pengingat akan meningkatnya angka obesitas di Indonesia. Saat ini, perilaku makanan dan pola hidup yang tidak seimbang turut menyumbang pada krisis kesehatan ini.

Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Pertama Campuran AS-Indonesia di MLS

Data terbaru menunjukkan prevalensi obesitas di kalangan masyarakat dewasa meningkat dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Hal ini menjadi tantangan besar, mengingat dampak negatifnya terhadap kesehatan jangka panjang.

Perubahan Tren Obesitas di Indonesia

Kenaikan angka obesitas di Indonesia sejalan dengan tren global terkait penyakit tidak menular. Menurut Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dari Kementerian Kesehatan RI, peningkatan ini mencerminkan kebiasaan merokok, konsumsi makanan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik.

“Kalau kita lihat beberapa terkait penyakit tidak menular, trennya sejak 3 dekade terus meningkat,” ujar Nadia. Penyakit ini tidak hanya terjadi karena obesitas, tetapi juga faktor lain seperti hipertensi dan diabetes.

Obesitas sering kali disebabkan oleh asupan kalori yang berlebihan dari makanan olahan. “Obesitas umumnya bukan terjadi saat ini,” tambah Nadia, mengingatkan bahwa gaya hidup yang tidak sehat sudah berlangsung lama.

Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Pentingnya Edukasi Gula, Garam, dan Lemak

Kampanye #BatasiGGL yang digagas oleh Nutrifood bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM sangat relevan dalam situasi ini. Kampanye ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih cermat dalam memilih makanan.

“Label batasi GGL ini penting dilakukan,” tegas Nadia, menyoroti bahwa konsumsi yang berlebihan akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Melalui pemahaman yang baik, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam pencegahan obesitas.

Berdasarkan perkiraan, sebanyak 33 juta masyarakat Indonesia mengalami obesitas, dengan 11,87 persen di antaranya adalah peserta dewasa. Dari total tersebut, terlihat bahwa pemahaman mengenai label kemasan pangan sangat diperlukan untuk mengontrol asupan.

Hambatan dalam Pengertian Pangan Olahan

Menurut Dr. Puspo Edi Giriwono dari SEAFAST Center IPB, tantangan yang dihadapi adalah pemahaman masyarakat tentang pangan olahan dan informasi yang tertera di kemasan. Teknologi pangan modern seharusnya memberi jaminan keamanan dan kualitas.

“Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan digunakan untuk menghasilkan produk yang baik,” jelas Puspo. Ia menegaskan bahwa edukasi publik sangat penting untuk mendorong pemilihan makanan yang lebih bijak.

Proses pengolahan pangan yang mengikuti standar keamanan dan nutrisi penting untuk memastikan produk bukan hanya aman, tetapi juga bernutrisi. Pengertian masyarakat menjadi kunci untuk menurunkan risiko obesitas secara efisien.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU