Konflik terbaru antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dipastikan akan memberikan dampak signifikan terhadap pasokan energi di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengingatkan bahwa gangguan ini dapat berimbas pada sektor logistik dan pariwisata.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat
Dampak dari ketegangan ini terlihat dari kemungkinan lonjakan harga minyak dan berkurangnya wisatawan dari Timur Tengah, yang berpotensi merugikan industri pariwisata nasional.
Kenaikan Harga Minyak Dunia
Airlangga Hartarto mengindikasikan bahwa konflik ini akan berpengaruh signifikan terhadap harga minyak global. Ia menyatakan, 'Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik.'
Kegiatan pasokan minyak, terutama di Selat Hormuz, diperkirakan akan terganggu, meskipun Airlangga mencatat bahwa 'supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya.'
Kenaikan harga minyak diharapkan menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari dalam situasi ini. Dalam menghadapi hal tersebut, pemerintah telah mengambil langkah proaktif untuk mengamankan pasokan minyak dari negara lain, termasuk perusahaan-perusahaan minyak di AS.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Dampak Terhadap Logistik dan Transportasi
Airlangga juga menyoroti pentingnya sektor transportasi dan logistik yang akan mengalami gangguan akibat konflik ini. Ia menjelaskan, 'Ja pertama yang terganggu kan pasti supply minyak. Yang kedua transportasi logistik.'
Gangguan dalam pasokan minyak menjadi kritis, karena dapat berimbas lebih luas pada logistik yang sangat dibutuhkan perekonomian. Ketidakstabilan pasokan berpotensi menciptakan dampak negatif di berbagai sektor lainnya.
Pemerintah akan terus memantau dan mengevaluasi situasi ini untuk memastikan adanya kelangsungan distribusi barang dan jasa di dalam negeri, demi menjaga stabilitas ekonomi.
Tantangan bagi Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata Indonesia kini menghadapi tantangan yang besar. Airlangga mencatat bahwa turisme dari Timur Tengah kemungkinan akan terhambat, menjadi salah satu dampak negatif dari konflik ini.
Ia menyatakan, 'Kita melihat turisme akan sangat terganggu.' Dengan menurunnya jumlah wisatawan, sektor pariwisata yang sudah rentan dapat menghadapi kesulitan lebih lanjut.
Melihat situasi ini, pemerintah perlu merumuskan strategi dengan baik untuk merespons ancaman ini. Mencari pasar alternatif menjadi salah satu langkah penting untuk meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: