Jumat, 27 FEBRUARI 2026 • 13:05 WIB

Strategi BGN untuk Perkuat Ekonomi Lokal dengan Anggaran Langsung ke SPPG

Author

Strategi BGN untuk Perkuat Ekonomi Lokal dengan Anggaran Langsung ke SPPG

Badan Gizi Nasional (BGN) kini mengubah cara penyaluran anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan 93% dari total anggaran sebesar Rp 268 triliun dialokasikan langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), diharapkan dapat lebih efisien dan transparan.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Siap Tantang Alcaraz

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa pola baru ini berpotensi merevolusi ekonomi lokal, mengedarkan sekitar Rp 240 triliun tanpa melalui pemerintah daerah. Ini bukan hanya soal angka, tapi dampaknya dapat dirasakan di seluruh pelosok negeri.

Mekanisme Penyaluran Dana BGN

BGN mengalokasikan 93% dari total anggaran yang ada langsung kepada SPPG. Dadan menekankan, langkah ini memastikan bahwa dana benar-benar sampai ke masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Dengan pola baru ini, Rp 240 triliun beredar dari Sabang hingga Merauke tanpa melalui pemerintah daerah. Keputusan ini memberikan harapan untuk lebih transparan dan efisien dalam penghilangan birokrasi yang kerap menghambat alokasi dana.

Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan

Dampak Ekonomi Lokal

Perputaran dana sebesar Rp 36 triliun telah berdampak positif terhadap perekonomian lokal. Dadan menekankan pentingnya pemerataan ekonomi di tiap wilayah agar semua masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa peningkatan jumlah SPPG di suatu daerah berbanding lurus dengan semakin banyaknya dana yang beredar. Ini memberi sinyal positif bagi masyarakat-di mana lebih banyak orang bisa terlibat dalam program yang berlangsung.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kesejahteraan Petani

BGN, melalui Program Makan Bergizi Gratis, berkomitmen untuk menyerap produk lokal. Hal ini juga memastikan pasar bagi petani dan pelaku usaha daerah.

Dadan mengungkapkan, kondisi ini memberi peluang kepada petani untuk mendapatkan harga yang lebih baik, contohnya petani wortel di Nusa Tenggara Timur. "Belum pernah terjadi dalam era mana pun, produksi lokal dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang," tuturnya.

Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Lima: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU