Dalam sejarahnya, babi pernah menjadi bagian penting dalam budaya Timur Tengah, sebelum akhirnya hilang dari kehidupan masyarakat di sana. Penelitian terbaru mengungkapkan fakta menarik tentang domestikasi dan penggunaan babi yang berakar seribu tahun lalu.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat
Melalui analisis DNA kuno, para ilmuwan menemukan bahwa babi pertama kali dijinakkan di Mesopotamia sekitar 8.500 SM, jauh sebelum larangan konsumsi diterapkan dalam ajaran Islam. Dengan adanya fakta ini, kita bisa memahami kenapa babi pernah menjadi sumber protein di kawasan tersebut.
Sejarah Domestikasi Babi
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Kiel University, Jerman, telah memberikan wawasan baru mengenai sejarah domestikasi babi. Dalam riset berjudul 'Insights Into Early Pig Domestication Provided by Ancient DNA Analysis', ditemukan bahwa babi menjadi sumber makanan utama bagi masyarakat di Mesopotamia.
Catatan arkeologis menunjukkan bahwa sejak tahun 5.000 hingga 2.000 SM, babi dipelihara dalam jumlah yang signifikan. Ini menandakan betapa pentingnya babi sebagai sumber protein pada masa itu, sebelum adanya pemahaman dan kepercayaan yang membatasi konsumsinya.
Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024
Ancaman Ekologi Terhadap Konsumsi Babi
Antropolog Marvin Harris dalam buku terkenalnya, 'Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir', menjelaskan bahwa pelarangan konsumsi babi berkaitan erat dengan kebutuhan ekologis yang tinggi. Satu ekor babi, misalnya, membutuhkan hingga 6.000 liter air untuk tumbuh optimal.
Situasi tersebut menjadi masalah di kawasan Timur Tengah, yang lebih memilih mengalihkan sumber daya air untuk kebutuhan hidup lainnya. Dengan keterbatasan sumber daya, konsumsi babi pun jadi tidak praktis dan mulai ditinggalkan.
Perubahan Budaya dengan Kemunculan Ayam
Sejarawan Richard W. Redding mencatat bahwa munculnya ayam sebagai sumber protein alternatif berkontribusi pada pengurangan populasi babi di kalangan masyarakat Arab. Ayam menawarkan keuntungan praktis, dengan kebutuhan air yang jauh lebih sedikit, yakni 3.500 liter untuk setiap kilogram daging.
Selain itu, ayam juga menyediakan telur yang menjadi sumber protein tambahan. Hal ini memperkuat posisi ayam dalam diet masyarakat, membuat babi semakin terpinggirkan dari kebiasaan konsumsi.
Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke RS Polri: Memantau Korban Aksi Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: