Ratusan warga dari berbagai daerah di Kota Banda Aceh tumpah ruah di Pendopo Gubernur Aceh pada Rabu (18/2/2026) untuk menagih bantuan uang meugang. Aksi ini berlangsung menjelang bulan suci Ramadhan, menandakan harapan besar masyarakat terhadap tradisi tahunan ini.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Meskipun banyak yang telah menunggu selama tiga hari, hingga kini belum ada kejelasan terkait realisasi bantuan tersebut. Warga berharap bisa mendapatkan penjelasan langsung dari Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, atau perwakilan pemerintah setempat.
Kondisi Kerumunan di Pendopo
Pengamatan di lokasi menunjukkan bahwa pengunjung beragam, mulai dari remaja hingga lansia, banyak di antaranya juga membawa anak-anak. Beberapa warga terlihat berusaha masuk ke dalam pendopo, sementara yang lain memilih duduk menunggu di halaman.
Aparat kepolisian dan Satpol PP-WH dikerahkan untuk menjaga keamanan selama kerumunan berlangsung, dengan harapan situasi tetap terkendali meski banyak warga yang tampak frustrasi. Dalam suasana menunggu ini, para warga berharap dapat menjalin komunikasi dengan pihak berwenang.
Banyak warga yang memanfaatkan waktu menunggu untuk berinteraksi satu sama lain, menciptakan suasana yang penuh kecemasan akan hasil dari aksi mereka.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Tradisi Meugang dan Harapan Masyarakat
Tradisi pembagian uang meugang merupakan rutinitas tahunan yang diharapkan masyarakat. Nuraini, seorang warga dari Gampong Ulee Lheue, menyatakan kekecewaannya karena tahun ini bantuan tersebut belum direalisasikan.
"Dari zaman ke zaman memang dibagi uang meugang untuk beli daging, kali ini saja tidak ada. Sudah tiga hari kami di sini," ujarnya, menggambarkan bagaimana harapan masyarakat mendorong mereka untuk menanti.
Sebagai tradisi, masyarakat selalu datang ke pendopo meugang untuk menerima bantuan. Namun, tahun ini mereka hanya disuguhkan janji-janji yang belum terealisasi.
Respon dan Dampak Ketidakpastian
Ketidakpastian mengenai bantuan memicu kekecewaan di kalangan masyarakat. Nuraini menegaskan, "Tiap meugang kami selalu ke sini. Tapi kali ini tidak ada kejelasan sama sekali. Janganlah disakiti hati masyarakat. Kami memang inisiatif sendiri ke sini. Mereka cuma janji-janji saja."
Situasi ini menggambarkan betapa tinggi harapan masyarakat terhadap bantuan uang meugang. Ketidakpastian ini juga menunjukkan dampak sosial yang besar dan perlunya perhatian dari pemerintah untuk memenuhi ekspektasi masyarakat.
Dengan adanya kerumunan tersebut, terlihat jelas betapa mendalamnya dampak ketidakpastian ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh yang sangat menjunjung tinggi tradisi meugang.
Baca juga: Kunto Aji : Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Diterima Seutuhnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: