Iran telah mengambil tindakan signifikan dengan menutup sebagian Selat Hormuz pada 17 Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari latihan militer yang dilaksanakan oleh Garda Revolusi Teheran.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kebijakan ini muncul di tengah proses negosiasi rumit antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir yang berlangsung cukup lama.
Latar Belakang Penutupan Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan rute strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar dunia. Penutupan ini dikonfirmasi oleh Garda Revolusi Iran usai pernyataan tegas dari Presiden AS, Donald Trump, yang menambah ketegangan dalam situasi geopolitik.
Garda Revolusi melaporkan bahwa penutupan ini dimaksudkan untuk menjaga keselamatan pelayaran selama latihan yang diberi nama 'Smart Control of the Strait of Hormuz'. Latihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan operasional angkatan laut Iran dalam menghadapi ancaman di wilayah tersebut.
Dari fakta yang ada, Selat Hormuz adalah choke point penting di mana sekitar 13 juta barel minyak mentah melintasi selat setiap harinya. Hal ini menyumbang 31% dari total aliran minyak mentah dunia melalui jalur laut dan membuat kebijakan seperti ini menjadi perhatian global.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol
Situasi Diplomatik antara AS dan Iran
Penutupan Selat Hormuz terjadi bersamaan dengan perundingan intensif antara AS dan Iran di Jenewa, Swiss. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa meskipun ada kemajuan dalam negosiasi, tantangan yang dihadapi tetap signifikan.
Araghchi menyebutkan, "Namun kemajuan ini bukan berarti kesepakatan akan segera dicapai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan." Ini mencerminkan kerumitan hubungan internasional saat ini, di mana dialog tetap ada meskipun ketegangan terus mengemuka.
Latihan militer yang dilakukan Iran bisa dianggap sebagai langkah strategis untuk menunjukkan kekuatan negara tersebut di tengah geopolitik yang tidak pasti. Hal ini juga merupakan sinyal bagi negara lain tentang ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan dari luar.
Dampak Penutupan terhadap Pasar Minyak Global
Reaksi pasar minyak global tampak dengan pergerakan harga yang tak stabil setelah penutupan ini. Harga minyak Brent turun 1,8% menjadi US$ 67,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga menurun 0,4% ke level US$ 62,65 per barel.
Jakob Larsen, Chief Safety and Security Officer Bimco, berpendapat bahwa dampak penutupan ini terhadap kapal-kapal menuju Teluk Persia tidak akan signifikan. "Latihan ini menetapkan area uji tembak yang tumpang tindih dengan jalur masuk kapal," ujarnya.
Dalam konteks ini, meski ketegangan meningkat di laut, kemungkinan kapal-kapal komersial akan menjauh dari area tersebut agar tetap aman dan terhindar dari risiko yang tidak diinginkan.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: