Patah hati bukan hanya sekadar ungkapan, melainkan pengalaman emosional yang dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Penelitian menunjukkan bahwa dampak dari patah hati bisa terasa sampai ke aspek fisik.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Berdasarkan studi dari Dr. Yoram Yovell, seorang psikiater dan ahli neurosains, rasa sakit emosional memiliki landasan ilmiah yang menarik. Hal ini menjelaskan mengapa kehilangan seseorang bisa menimbulkan rasa sakit yang dalam.
Hubungan Antara Nyeri Fisik dan Emosional
Dalam pembicaraannya di siniar Chasing Life, Dr. Yoram Yovell menjelaskan bahwa rasa sakit emosional bukanlah sekadar ilusi. Ia menekankan, "Tanyakan kepada seseorang tentang hal paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidup mereka," dan berlanjut, "Mereka tidak akan menceritakan tentang kecelakaan kendaraan atau operasi medis, tetapi mereka akan bercerita tentang seseorang yang mereka cintai dan telah hilang."
Penelitian neurobiologi menunjukkan adanya hubungan kuat antara rasa sakit fisik dan emosional. Ketika seseorang mengalami kehilangan, area otak yang terbakar juga aktif saat seseorang mengalami cedera fisik.
Menariknya, rasa duka yang mendalam bisa memicu sindrom takotsubo, populer dikenal sebagai sindrom patah hati. Gejalanya mirip serangan jantung, yang menegaskan dampak fisik dari rasa sakit emosional.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Perjuangan Masyarakat
Peran Sifat Alami Otak dalam Mengatasi Rasa Sakit
Saat menghadapi kondisi sulit, otak manusia memiliki sistem pertahanan alami yang dipicu oleh hormon endorfin. Endorfin berfungsi sebagai opioid alami, membantu tubuh meredakan nyeri.
Dr. Yovell menjelaskan bahwa endorfin jauh lebih efektif dalam mengatasi nyeri dan meningkatkan suasana hati dibandingkan dengan beberapa obat-obatan. Ia juga menekankan pentingnya kembali terhubung dengan orang-orang terkasih selama masa penyembuhan.
Kegiatan sosial dan olahraga yang merangsang produksi endorfin menjadi sangat penting dalam mempercepat proses pemulihan. Interaksi sosial berfungsi untuk mendukung kesehatan mental individu yang sedang berduka.
Dukungan Sosial dalam Proses Pemulihan
Dr. Yovell menyarankan agar teman-teman tetap memberikan dukungan kepada mereka yang sedang berjuang meskipun ada keinginan untuk menjauh. "Anda memiliki kekuatan untuk menghibur orang terkasih yang berada dalam tekanan fisik atau emosional yang dalam," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa sakit yang mendalam dapat menjadi indikator siapa yang benar-benar kita pedulikan. Namun, jika rasa sakit itu berlanjut dan menimbulkan keinginan untuk bunuh diri, langkah intervensi medis menjadi sangat krusial.
Di akhir diskusi, Dr. Yovell memberikan harapan bagi mereka yang berduka, "Hati itu kuat. Memang benar itu menyakitkan. Tapi hati bisa sembuh, dan masih ada orang-orang yang mencintaimu." Pesan ini menegaskan bahwa dengan dukungan yang tepat, pengalaman sakit dan kehilangan dapat diatasi.
Baca juga: Transformasi Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy dengan Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: