Senin, 16 FEBRUARI 2026 • 15:20 WIB

Potensi Perbedaan Awal Puasa 2026 di Indonesia: NU vs Muhammadiyah

Author

Potensi Perbedaan Awal Puasa 2026 di Indonesia: NU vs Muhammadiyah

Penetapan awal puasa 2026, atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah, bisa jadi tidak serentak di Indonesia. Hal ini disebabkan perbedaan metode penghitungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengguncang Bursa

Nahdlatul Ulama belum mengumumkan tanggal pasti untuk awal Ramadhan, sedangkan Muhammadiyah telah menetapkan hari puasa yang berbeda. Ketidakcocokan ini berpotensi mempengaruhi umat Islam dalam menentukan awal bulan suci tersebut.

Metode Penetapan Nahdlatul Ulama

Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama belum secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 2026. NU mengikuti keputusan pemerintah tanpa menetapkan awal bulan Hijriah secara mandiri, termasuk saat Ramadhan dan dua hari raya.

Dengan mengacu pada keputusan Muktamar ke-20 tahun 1954, NU menggunakan mekanisme ikhbar dalam menentukan awal bulan. Ini berarti mereka menyampaikan keputusan pemerintah mengenai penetapan tanggal kepada masyarakat.

Lembaga Falakiyah PBNU sudah melakukan perhitungan untuk menentukan awal puasa dengan metode hisab jama’i. Perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa ijtimak terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 19.02 WIB, dengan tinggi hilal berada di minus 1 derajat 44 menit.

Sejalan dengan perhitungan tersebut, bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga diperkirakan 1 Ramadhan akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga: Liburan Sendirian di Kota-Kota Terbaik Indonesia

Perhitungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berbeda dengan NU, Muhammadiyah telah lebih awal menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mereka gunakan.

Sistem ini berprinsip pada kesatuan hari dan tanggal secara global. Penentuan bulan baru dilakukan dengan parameter hisab, di mana syarat elongasi minimal adalah 8 derajat dan tinggi hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.

Menurut perhitungan, konjungsi terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 12.01 GMT. Dengan parameter yang diterapkan, Muhammadiyah menetapkan bahwa awal puasa jatuh pada 18 Februari 2026.

Mengapa Terjadi Perbedaan?

Perbedaan dalam penetapan awal puasa 2026 muncul dari pendekatan metodologis yang digunakan. NU mengombinasikan metode hisab dan rukyat, serta mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat.

Sementara itu, Muhammadiyah memilih untuk menggunakan hisab murni yang berlandaskan kalender global yang sudah ditentukan sebelumnya. Meskipun keduanya berdasarkan astronomi, kerangka fikih dan metodologi masing-masing berbeda.

Keputusan resmi dari pemerintah melalui sidang isbat pada 17 Februari 2026 akan menjadi acuan bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Di sisi lain, Muhammadiyah sudah menetapkan waktu puasa pada 18 Februari 2026.

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Baru untuk Talenta Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU