Minggu, 15 FEBRUARI 2026 • 19:55 WIB

Bahaya Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane: Apa yang Perlu Diketahui?

Author

Bahaya Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane: Apa yang Perlu Diketahui?

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan tentang risiko pencemaran pestisida di Sungai Cisadane setelah insiden kebakaran gudang baru-baru ini.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat

Dampak selanjutnya diperkirakan dapat berujung pada efek kesehatan jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem di sekitarnya.

Dampak Pencemaran Kimia

Ignasius Sutapa, peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN, menjelaskan bahwa pencemaran ini terjadi setelah adanya tumpahan pestisida yang dapat masuk ke dalam jaringan organisme akuatik. Zat kimia ini kemudian berpindah ke predator yang lebih tinggi dalam rantai makanan, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut.

Risiko ini tidak hanya berdampak dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis. "Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis," tegasnya.

Pestisida yang mencemari sungai dapat menyerap ke dalam sedimen dasar, dan dalam kondisi tertentu, dapat lepas kembali ke kolom air. Walaupun air tampak bersih di permukaan, ancaman toksisitas bisa tetap ada di lapisan sedimen.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia

Efek Kesehatan Masyarakat

Paparan pestisida menjadi masalah serius yang bisa terjadi melalui berbagai cara, termasuk konsumsi air dan ikan terkontaminasi. Ignasius juga menambahkan bahwa beberapa jenis pestisida bersifat neurotoksik dan dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, dan gangguan saraf.

Paparan kronis terhadap pestisida dapat membawa risiko lebih parah, termasuk gangguan endokrin dan kerusakan organ. "Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik," jelasnya.

Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap potensi bahaya yang mungkin timbul dari pencemaran ini. Edukasi dan pemahaman yang baik tentang risiko menjadi sangat penting di tengah kondisi seperti ini.

Tindakan Mitigasi dan Strategi Jangka Panjang

Dalam rangka mitigasi, Ignasius merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di daerah terdampak. Selain itu, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time juga dianggap krusial.

Edukasi kepada masyarakat untuk tidak menggunakan air sungai selama masa krisis sangat dianjurkan hingga dinyatakan aman kembali. Iniulah salah satu langkah pencegahan yang dapat diambil.

Dia juga mendesak perlunya strategi jangka panjang dengan meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pencemar B3. Restorasi ekosistem sungai juga diharapkan dapat membantu mengembalikan kemampuan alami sungai dalam menyaring polutan.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU