Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 20:55 WIB

Menghadapi Ramadan di Angkasa: Tantangan Astronaut dalam Menentukan Waktu Puasa

Author

Menghadapi Ramadan di Angkasa: Tantangan Astronaut dalam Menentukan Waktu Puasa

Menjalani bulan suci Ramadan menjadi pengalaman istimewa bagi astronaut yang berada di luar angkasa. Dengan siklus siang dan malam yang ekstrem, menentukan waktu untuk berpuasa memerlukan penyesuaian yang khusus.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Pulih

Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), astronaut tidak dapat mengacu pada metode konvensional dalam menentukan waktu puasa. Hal ini menyebabkan mereka mencari cara alternatif untuk menjalani ibadah di luar atmosfer Bumi.

Siklus Waktu yang Berbeda di Luar Angkasa

Astronaut di ISS mengelilingi Bumi sekitar 16 kali dalam satu hari. Hal ini menyebabkan mereka bisa melihat matahari terbit dan terbenam sebanyak 16 kali dalam 24 jam, sehingga penentuan waktu imsak dan berbuka puasa tidak dapat mengacu pada pergerakan matahari seperti di Bumi.

Kondisi ini membuat konsep waktu menjadi lebih kompleks dalam konteks pelaksanaan ibadah. Durasi siang dan malam yang tidak sesuai dengan yang biasa ditemukan di Bumi menyulitkan para astronaut untuk mengikuti jadwal puasa secara alami.

Cara Menentukan Waktu Puasa

Untuk memenuhi kebutuhan ibadah, astronaut Muslim biasanya menentukan waktu puasa dengan merujuk pada waktu tertentu di Bumi. Beberapa pendekatan yang digunakan adalah mengikuti waktu negara asal, waktu peluncuran, atau waktu yang disepakati berdasarkan pedoman agama.

Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024

Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk menjaga rutinitas ibadah meskipun berada di tempat yang tidak memungkinkan penggunaan siklus siang dan malam alami. Dalam beberapa kasus, ada pula panduan yang membolehkan astronaut tidak berpuasa selama misi dan menggantinya setelah kembali ke Bumi, sesuai dengan ketentuan agama.

Tantangan Berpuasa di Ruang Angkasa

Tantangan tidak hanya datang dari waktu, tetapi juga dari konsumsi makanan. Makanan astronaut dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi di lingkungan tanpa gravitasi, dengan kemasan siap saji yang memiliki umur simpan panjang.

Di ISS, astronaut mengonsumsi makanan bergizi yang telah disesuaikan dengan aktivitas mereka di luar angkasa. Dengan perencanaan yang matang, kebutuhan energi tetap dapat dipenuhi meski harus menjalani puasa, jika kondisi memungkinkan.

Menjaga Ibadah dan Koneksi Spiritual

Walaupun di tengah keterbatasan, astronaut tetap berusaha untuk menjalankan ibadah selama bulan Ramadan. Aktivitas seperti salat dan refleksi spiritual dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi misi mereka.

Komunikasi dengan keluarga melalui panggilan video menjadi salah satu cara untuk menjaga kedekatan emosional dan semangat Ramadan, meskipun mereka berada jauh dari Bumi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa Ramadan lebih dari sekadar tempat dan kondisi fisik.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU