Studi terbaru dari NASA telah merubah cara pandang kita mengenai asal usul air di Bumi. Penelitian ini menunjukkan bahwa air mungkin bukan berasal dari meteorit seperti yang selama ini diyakini.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat
Dengan menganalisis sampel Bulan yang telah ada selama lebih dari 50 tahun, para ilmuwan menemukan bahwa kontribusi meteorit terhadap air di Bumi jauh lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.
Teori Baru tentang Asal Usul Air di Bumi
Sebelumnya, banyak yang percaya bahwa air di Bumi berasal dari meteorit yang kaya air. Namun, penelitian ini menawarkan pandangan baru, menunjukkan bahwa hanya sekitar satu persen dari material meteorit yang ditemukan di permukaan Bulan.
Analisis isotop oksigen dalam regolit Bulan mengindikasikan bahwa kontribusi meteorit jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan. Ini membuka kemungkinan bahwa masih terdapat sumber lain yang belum teridentifikasi sebagai asal usul air di planet kita.
Aktivitas geologi serta cuaca di Bumi menghalangi penelusuran jejak tabrakan kuno yang mungkin membawa air ke planet ini, sementara Bulan yang minim aktivitas geologis menunjukkan arsip sejarah benturan yang lebih jelas.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Metodologi dan Temuan Penelitian
Dalam studi ini, para peneliti NASA menggunakan analisis isotop oksigen yang presisi untuk mengevaluasi dampak meteorit terhadap kehadiran air di permukaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun meteorit membawa air, kontribusi mereka tidak signifikan.
Justin Simon, seorang ilmuwan dari NASA Johnson Space Center, menegaskan, "Hasil studi kami menunjukkan bahwa meskipun meteorit memang membawa air, jumlahnya tidak cukup untuk menjelaskan seluruh air yang ada di Bumi."
Dengan mempertimbangkan berbagai benturan yang dialami Bumi selama pembentukannya, kemungkinan terbesar air berasal dari proses awal yang saat ini masih kurang dipahami.
Peran Bulan sebagai Kapsul Waktu
Tony Gargano, peneliti utama studi ini, menggambarkan Bulan sebagai "kapsul waktu" yang krusial untuk memahami sejarah air di Bumi. "Bulan memberi kita catatan benturan yang tidak bisa kita temukan lagi di Bumi," jelasnya.
Temuan ini menyingkap pertanyaan mendasar mengenai asal air yang menyokong kehidupan di planet kita. Analisis lebih lanjut semakin mendukung pandangan bahwa sebagian besar air telah ada sejak awal Tata Surya.
Dengan demikian, meskipun meteorit memiliki peran dalam pemasokan air, proporsi mereka untuk menjelaskan total air di Bumi harus dipertimbangkan kembali dalam konteks penelitian ini.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: