Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita, mempengaruhi tidak hanya interaksi, tetapi juga cara kita melihat diri sendiri.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Banyak pengguna sering kali merasa tertekan akibat perbandingan dengan pencapaian yang ditampilkan oleh orang lain di berbagai platform.
Pengaruh Media Sosial terhadap Persepsi Diri
Sebuah survei terbaru menemukan bahwa sekitar 90% pengguna media sosial merasa tertekan ketika melihat pencapaian orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa scrolling di feed media sosial dapat menciptakan rasa tidak puas dan perbandingan sosial yang tidak sehat.
Generasi muda, di khususnya, sering kali membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan di platform seperti Instagram dan Facebook. Foto-foto sempurna dan pencapaian luar biasa dapat membuat merasa kurang berharga.
Satu studi menunjukkan bahwa orang yang terpapar lebih banyak konten glamor merasa lebih rendah diri dibandingkan dengan mereka yang memiliki lebih sedikit paparan. Ini memperjelas dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh visualisasi kehidupan orang lain.
Perasaan tertekan dan keraguan diri semakin meningkat di kalangan individu akibat paparan konten di media sosial, yang menjadi lebih penting untuk dipahami dalam konteks budaya yang dipengaruhi oleh era digital.
Norma Sosial dan Harapan di Era Digital
Media sosial membentuk norma sosial baru yang dapat mempengaruhi cara kita menilai diri sendiri. Ketika banyak orang mengejar pengakuan lewat likes dan komentar, ini menjadi patokan baru dalam kinerja sosial.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Intensitas keterhubungan di media sosial menuntut pengguna untuk selalu menunjukkan versi terbaik dari diri mereka, yang dapat menyebabkan stres dan tekanan untuk mempertahankan citra yang sempurna.
Dari perspektif psikologis, kebiasaan ini menciptakan pola pikir berbahaya di mana nilai diri tergantung pada validasi eksternal. Kondisi ini dapat berujung pada burnout dan masalah kesehatan mental.
Sebagai contoh, banyak influencer membangun narasi yang secara tidak langsung meningkatkan kecemasan dan kebingungan di kalangan pengikutnya, menciptakan siklus perbandingan yang tidak ada habisnya.
Strategi untuk Menilai Diri Secara Positif
Para ahli merekomendasikan untuk membatasi waktu di media sosial sebagai cara untuk mengurangi perasaan negatif. Mengatur batasan ini dapat membantu individu lebih fokus pada hal-hal positif dalam hidup.
Beberapa psikolog menyarankan agar kita kembali terlibat dalam aktivitas di luar media sosial. Kegiatan seperti olahraga, melukis, atau hobi lainnya dapat membangun rasa percaya diri tanpa dipengaruhi lingkungan digital.
Penting juga untuk menyadari bahwa yang kita lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Mengetahui bahwa banyak konten yang dikurasi dapat membantu mengurangi kekhawatiran yang muncul akibat perbandingan sosial.
Dengan penerapan strategi ini, individu dapat membangun identitas diri yang lebih positif dan produktif, meski berada di tengah pengaruh media sosial.
Baca juga: Sherina Munaf Menyelamatkan Kucing di Tengah Kontroversi Perampokan Rumah Uya Kuya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: