Kamis, 29 JANUARI 2026 • 14:24 WIB

Hamas Siap Serahkan Penguasaan Gaza kepada Komite Baru

Author

Hamas Siap Serahkan Penguasaan Gaza kepada Komite Baru

Kelompok Hamas mengumumkan kesiapan mereka untuk menyerahkan pemerintahan Gaza kepada Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza (NCAG), sebuah langkah yang diharapkan dapat membawa kedamaian di wilayah tersebut.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Perjuangan Masyarakat

Pernyataan ini juga diiringi dengan tuntutan agar perlintasan perbatasan Rafah segera dibuka untuk memperlancar akses di kawasan yang terdampak konflik.

Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza (NCAG)

NCAG, yang terdiri dari 15 anggota, dibentuk sejalan dengan perjanjian gencatan senjata yang didukung oleh Amerika Serikat. Perjanjian ini mulai berlaku pada 10 Oktober dan bertujuan menciptakan stabilitas di Gaza setelah konflik yang berkepanjangan.

Hazem Qassem, juru bicara Hamas, menjelaskan bahwa protokol perkembangan penyerahan telah disiapkan dengan lengkap. Dia menggarisbawahi pentingnya fungsi komite ini dalam mengawasi transfer pemerintahan di semua sektor Gaza.

Keberadaan komite ini diharapkan bisa mendorong manajemen pemerintahan yang lebih baik dan terorganisir setelah masa-masa sulit yang telah dilalui wilayah tersebut.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Peran dan Tanggung Jawab NCAG

Tanggung jawab utama NCAG adalah mengelola pemerintahan sehari-hari di Gaza, yang belakangan terjebak dalam konflik berkepanjangan. Dengan demikian, komite tersebut menjadi harapan baru untuk membawa stabilitas lebih lanjut.

Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina, telah ditunjuk sebagai pemimpin NCAG. Dia diharapkan mampu membawa keteraturan dan perubahan positif, meskipun tantangan besar akan tetap menghadang.

Pengawasan dari Dewan Perdamaian yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump juga diharapkan bisa memberikan legitimasi dan dukungan terhadap kerja NCAG.

Pengoperasian Perlintasan Rafah

Pembukaan perlintasan Rafah menjadi isu krusial dalam proses ini karena merupakan satu-satunya pintu keluar Gaza menuju dunia luar yang tidak terhubung dengan Israel. Qassem menegaskan bahwa akses tersebut harus dibuka tanpa hambatan dari semua pihak terkait, khususnya dari Israel.

Sejak Mei 2024, Rafah mengalami penutupan yang berkepanjangan, dan meskipun ada beberapa percobaan untuk membukanya, semua usaha tersebut belum membuahkan hasil.

Baru-baru ini, Ali Shaath menyampaikan bahwa perlintasan tersebut akan segera dibuka kembali, memberikan harapan baru untuk aksesibilitas yang lebih baik bagi warga Gaza.

Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke RS Polri: Memantau Korban Aksi Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU