Banyak orang sering merasakan waktu seperti melesat lebih cepat ketika mereka beranjak dewasa. Fenomena ini sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan biologis.
Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain
Seiring bertambahnya usia, rutinitas sehari-hari yang monoton cenderung membuat persepsi waktu menjadi lebih singkat dibandingkan ketika kita masih kanak-kanak.
Psikologi Persepsi Waktu
Salah satu alasan mengapa waktu terasa lebih cepat bagi orang dewasa adalah karena persepsi psikologis yang berubah. Seiring bertambahnya usia, otak kita mulai mengkategorikan pengalaman dan memori yang sama, maka waktu menjadi terkesan lebih singkat.
Contohnya, saat mengenang masa kanak-kanak, terdapat banyak pengalaman baru yang menarik perhatian. Namun, saat dewasa, rutinitas sehari-hari cenderung menghasilkan kenangan baru yang jauh lebih sedikit.
Dr. Philip Zimbardo, seorang psikolog terkemuka, menjelaskan, 'Pikiran kita lebih bisa merasakan waktu saat kita terlibat sepenuhnya dalam momen.' Jika kita tidak terlibat sepenuhnya, maka kita cenderung merasa waktu berlalu lebih cepat.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Karena Kondisi Jakarta yang Tidak Kondusif
Dampak Rutinitas Sehari-hari
Saat memasuki fase dewasa, banyak orang terjebak dalam rutinitas yang lebih terstruktur. Tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan berbagai kewajiban lainnya dapat menyita hampir seluruh waktu yang kita miliki.
Berlawanan dengan masa kecil yang penuh dengan bermain dan eksplorasi, waktu dewasa sering kali dihabiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sama secara berulang. Ini mengurangi kesempatan untuk mengalami hal baru.
Ahli neurologi David Eagleman mengemukakan, 'Pengalaman yang kaya dan beragam dapat memperlambat persepsi kita terhadap waktu.' Ketika kita berada dalam kerangka rutinitas, waktu seolah-olah bergerak lebih cepat dari biasanya.
Perubahan Biologis di Dalam Otak
Faktor biologis juga memiliki andil dalam cara kita merasakan waktu seiring bertambahnya usia. Penelitian mengindikasikan bahwa neuron di otak mengurangi kecepatan sinyal saat kita lebih tua.
Akibatnya, proses pengolahan waktu dalam otak manusia menjadi kurang efisien, yang berkontribusi terhadap persepsi bahwa waktu seolah-olah bergerak lebih cepat dibandingkan saat kita lebih muda.
Penulis dan pemikir Dr. Alain de Botton mengamati, 'Makin tua kita, makin sedikit waktu yang terasa penuh dan berharga.' Hal ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi persepsi waktu tidak hanya bergantung pada fase kehidupan, tetapi juga kesehatan mental dan fisik seseorang.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Baru untuk Talenta Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: