Banyak orang tua tidak menyadari kesalahan dalam pola asuh yang dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan anak.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Pertama Campuran AS-Indonesia di MLS
Kurangnya komunikasi yang efektif serta kontrol berlebihan merupakan beberapa faktor yang sering diabaikan dalam hubungan orang tua dan anak.
Kurangnya Komunikasi Efektif
Komunikasi antara orang tua dan anak adalah fondasi penting dalam hubungan mereka. Namun, banyak orang tua terjebak dalam kesibukan sehari-hari dan mengabaikan waktu untuk bercakap-cakap dengan anak.
Menurut psikolog anak, 'Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat.' Ketika orang tua melewatkan kesempatan untuk mendengarkan curahan hati anak, mereka dapat memperbesar jarak emosional di antara mereka.
Akibatnya, anak mungkin merasa tidak diperhatikan atau diabaikan, yang dapat berujung pada masalah kepercayaan diri di kemudian hari.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap: Kontroversi Penghasutan dan Kebebasan Sipil
Terlalu Mengontrol Perilaku Anak
Sikap mengontrol dalam pola asuh sering kali bertujuan untuk melindungi anak dari kesalahan. Namun, terlalu banyak kontrol dapat membuat anak merasa tertekan dan kehilangan kebebasan berekspresi.
Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Maria Hartono, seorang pakar psikologi, 'Orang tua harus menemukan keseimbangan antara memberikan arahan dan membiarkan anak mengambil keputusan sendiri.' Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk membuat pilihan, mereka dapat mengembangkan ketergantungan yang berlebihan kepada orang tua.
Hal ini berdampak pada pengembangan rasa percaya diri mereka.
Kurangnya Pujian dan Penghargaan
Menghargai pencapaian anak adalah bagian penting dari pola asuh yang sehat. Namun, banyak orang tua lupa memberikan pujian ketika anak berhasil mencapai sesuatu, baik itu besar maupun kecil.
Menurut penelitian dari Universitas Indonesia, 'Anak yang sering mendapat pujian cenderung lebih percaya diri dan berprestasi baik di sekolah.' Ketidakhadiran pengakuan dapat membuat anak merasa usaha mereka tidak dihargai.
Hal ini dapat menyebabkan anak kehilangan motivasi untuk berbuat baik di masa depan, karena mereka merasa apapun yang mereka lakukan tidak dianggap penting.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Baru untuk Talenta Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: