Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela diperkirakan akan memberi keuntungan bagi China dalam memperkuat klaimnya atas Taiwan dan Laut China Selatan. Namun, para analis mengingatkan bahwa langkah ini tidak berarti Beijing akan segera melancarkan invasi ke Taiwan.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Lima: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Berdasarkan informasi terbaru, tindakan AS di Amerika Latin menawarkan 'amunisi' baru bagi China untuk menyerang posisi Washington di panggung internasional. Ini mungkin mengubah dinamika diplomasi antara kedua negara.
Analisis Perubahan Narasi Diplomatik Beijing
Beberapa pakar hubungan internasional melihat adanya perubahan narasi yang mungkin berupa respons dari Beijing terhadap langkah AS. Berdasarkan informasi dari Reuters, Presiden Xi Jinping diyakini akan tetap memfokuskan perhatian pada aspek domestik terkait urusan Taiwan.
Tindakan militer AS di Venezuela ini memberikan 'amunisi' baru bagi China untuk mengkritik kebijakan Washington, dengan harapan bisa memperlebar celah dalam arena diplomatik global.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Kesempatan Strategis bagi China
Penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan AS diangga sebagai peluang baru bagi China. William Yang, analis dari International Crisis Group, menyatakan bahwa situasi ini menawarkan banyak argumen bagi China untuk melawan AS di berbagai isu, termasuk Taiwan.
'Ini benar-benar menciptakan banyak celah dan 'amunisi murah' bagi China untuk melawan AS di masa depan terkait isu Taiwan, Tibet, hingga sengketa pulau di Laut China Timur dan Selatan,' kata Yang, menekankan potensi strategi yang bisa diambil Beijing.
Kondisi Terkini di Taiwan dan Respon Beijing
Meskipun ada peningkatan tekanan militer China terhadap Taiwan, banyak analis tampak skeptis bahwa China akan segera mengikuti jejak AS. Shi Yinhong, seorang Profesor Hubungan Internasional di Universitas Renmin Beijing, menyatakan bahwa ambisi Beijing terhadap Taiwan sangat bergantung pada kemampuan militer yang sedang berkembang.
Neil Thomas dari Asia Society juga berpendapat bahwa China tidak akan menjadikan kasus Venezuela sebagai preseden hukum. Ia mengingatkan bahwa China menganggap Taiwan sebagai 'urusan internal' dan bukan sebagai intervensi terhadap negara berdaulat.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: