Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperluas ancamannya terhadap negara-negara di Amerika Latin pasca intervensi militer di Venezuela. Dia menyatakan kesiapan untuk menyerang Kolombia dan memprediksi bahwa Kuba akan segera jatuh.
Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam pernyataannya, Trump menekankan bahwa Kolombia dan Venezuela berada dalam kondisi 'sangat sakit', menunjukkan adanya kemungkinan intervensi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Kontroversi Serangan ke Venezuela
Trump mengonfirmasi bahwa serangan terhadap Venezuela merupakan bagian dari operasi penegakan hukum sehubungan dengan penculikan Presiden Nicolás Maduro. Operasi ini dilaksanakan pada 3 Januari 2026 dan dianggap oleh banyak pihak sebagai upaya untuk menguasai cadangan minyak Venezuela.
Dia juga mengancam Presiden Kolombia Gustavo Petro dengan pernyataan bahwa, 'Kolombia sangat sakit dan Bogota dijalankan oleh orang-orang yang terlibat dalam perdagangan kokain.'
Reaksi keras langsung muncul dari Petro, yang menyerukan persatuan di Amerika Latin untuk menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh AS. Ia memperingatkan bahwa, 'AS adalah negara pertama di dunia yang mengebom ibu kota Amerika Selatan.'
Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain
Dampak pada Hubungan Internasional
Ancaman Trump tidak hanya terfokus pada Kolombia, tetapi juga melibatkan Kuba dan Meksiko. Dalam konteks ini, Trump menyebut bahwa Kuba 'sepertinya siap jatuh' akibat ketidakmampuan ekonomi, sembari menyoroti langkah-langkah Meksiko dalam menangani penyelundupan obat.
Trump menggambarkan situasi di Meksiko sebagai krisis di mana kartel narkoba mendominasi, menyatakan, 'Kartel menguasai Meksiko, suka atau tidak.'
Dia menilai bahwa tindakan militer AS diperlukan untuk menangani penyelundupan obat dan menegaskan pentingnya kerjasama antarnegara di kawasan tersebut.
Kritik dan Reaksi Global
Berbagai kritik muncul terkait langkah agresif AS di Amerika Latin, terutama soal dugaan motif ekonomi di balik penculikan Maduro. Banyak yang beranggapan bahwa intervensi tersebut lebih terkait dengan penguasaan sumber daya alam dibandingkan dengan kepentingan kemanusiaan.
Sikap Trump yang berani mempertahankan intervensi militer disanggah oleh berbagai tokoh di Amerika Latin, yang menginginkan bangkitnya kemandirian kawasan dari tekanan eksternal.
Perdebatan yang muncul mencerminkan kompleksitas hubungan antara AS dan negara-negara di Amerika Latin, serta menyerukan perhatian terhadap dampak kebijakan luar negeri yang agresif terhadap stabilitas regional.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: