Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan mengorek hidung dapat berhubungan dengan peningkatan risiko terkena penyakit Alzheimer dan demensia. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science Reports pada tahun 2022 dan menarik perhatian banyak kalangan.
Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024
Walaupun keterkaitannya dianggap lemah, peneliti meyakini bahwa kebiasaan ini dapat berkontribusi pada perkembangan demensia, terutama melalui infeksi bakteri yang menjalar ke otak.
Metodologi Penelitian yang Menarik
Dalam studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Griffith University, fokus utama adalah bakteri Chlamydia pneumoniae yang diketahui dapat menginfeksi manusia. Penelitian menemukan bahwa bakteri ini sering terdeteksi pada otak pasien demensia berusia lanjut dan berkaitan dengan demensia onset lambat.
Percobaan dilakukan dengan menggunakan tikus sebagai subjek, di mana bakteri dapat bergerak melalui saraf penciuman yang menghubungkan rongga hidung dan otak. Kerusakan pada epitel hidung dapat memperburuk infeksi, yang berujung pada peningkatan produksi protein amiloid-beta di otak, yang dikenal sebagai indikator utama Alzheimer.
Ahli saraf James St John mengungkapkan, 'Kami adalah yang pertama menunjukkan bahwa Chlamydia pneumoniae dapat masuk langsung melalui hidung ke otak dan memicu patologi yang menyerupai penyakit Alzheimer.' Temuan ini membuka kemungkinan dampak yang signifikan untuk manusia.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Respons Sistem Saraf terhadap Infeksi Bakteri
Penelitian menunjukkan bahwa bakteri C. pneumoniae dengan cepat dapat memasuki sistem saraf pusat tikus; hanya dalam 24 hingga 72 jam, bakteri ini sudah mampu menginfeksi saraf. Peneliti memperkirakan bahwa jalur hidung menjadi akses cepat ke otak.
James menambahkan, 'Kami perlu melakukan penelitian ini pada manusia dan memastikan apakah jalur yang sama bekerja dengan cara yang sama. Penelitian ini telah lama diusulkan oleh banyak pihak, tetapi belum pernah diselesaikan.'
Dampak dari temuan ini penting untuk memahami lebih dalam tentang penyakit neurodegeneratif, meskipun masih diperlukan pembuktian apakah efek serupa juga terjadi pada manusia.
Perhatian terhadap Kebiasaan Mengupil
Kebiasaan mengupil sangat umum dilakukan, dengan estimasi 9 dari 10 orang melakukannya. Meskipun manfaatnya belum jelas, penelitian ini memberikan alasan untuk lebih berhati-hati terhadap kebiasaan ini.
James dan timnya menyarankan untuk menghindari tindakan ini, karena dapat merusak jaringan pelindung di dalam hidung. 'Jika lapisan hidung rusak, Anda bisa meningkatkan jumlah bakteri yang masuk ke otak,' tegasnya.
Pertanyaan yang ingin dijawab oleh para peneliti adalah apakah peningkatan deposit protein amiloid-beta merupakan respons imun yang alami dan sehat. Temuan ini menekankan pentingnya penyelidikan lebih lanjut mengenai hubungan antara kebiasaan mengupil dan peningkatan risiko Alzheimer.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap: Kontroversi Penghasutan dan Kebebasan Sipil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: