Jepang kini tengah menghadapi tantangan serius dengan kehadiran kelompok kriminal baru bernama Tokuryu. Berbeda dengan Yakuza tradisional, kelompok ini mengusung pendekatan yang lebih modern namun brutal.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat
Tokuryu menjalankan modus operasi layaknya startup, namun dengan etika yang sangat diragukan. Mereka telah menyebabkan lonjakan kejahatan di masyarakat, terutama yang menargetkan populasi lansia.
Modus Operandi Tokuryu
Tokuryu dikenal dengan cara kerja yang inovatif, namun sangat merugikan. Mereka menggunakan metode penipuan yang brutal seperti 'Ini Aku!', di mana pelaku menyamar sebagai anggota keluarga yang meminta bantuan dari lansia.
Korban dari penipuan ini sering kali kehilangan uang dalam jumlah besar, yang meningkatkan angka kejahatan di Jepang. Takanori Kuzuoka, mantan anggota Tokuryu, menyatakan, 'Generasi milenial dan Gen Z lebih tertarik bergabung dengan Tokuryu karena kekecewaan mereka terhadap Yakuza yang kaku.'
Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain
Dampak Kejahatan dan Tanggapan Otoritas
Data menunjukkan bahwa antara Januari hingga Juli tahun ini, penipuan yang dilakukan oleh Tokuryu merugikan masyarakat dengan total mencapai 72,2 miliar yen, yang setara dengan sekitar Rp7,4 triliun. Ini menunjukkan betapa seriusnya dampak kejahatan kelompok ini.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, polisi Tokyo menjadikan Tokuryu sebagai prioritas utama dalam penegakan hukum. Mereka telah membentuk satuan tugas khusus yang terdiri dari 100 perwira untuk menghancurkan jaringan Tokuryu yang semakin meluas.
Perubahan Dinamika Yakuza dan Kejahatan Modern
Kondisi keberadaan Yakuza kini semakin memburuk, dengan jumlah anggota yang anjlok menjadi 18.800 orang pada tahun lalu. Penurunan ini membuat anggota Yakuza beralih ke kejahatan yang lebih ekstrem untuk bertahan hidup.
Seorang pengacara dari faksi Yakuza terbesar, Yamaguchi-gumi, menyatakan bahwa keadaan ekonomi yang sulit telah memaksa beberapa anggota untuk terlibat dalam kejahatan penipuan, meskipun itu melanggar kode etik mereka.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: