Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatera telah menyebabkan kerusakan pada infrastruktur dan meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit. Kondisi lingkungan yang kotor dan terbatasnya akses terhadap air bersih memperparah kesehatan masyarakat.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University menegaskan bahwa ada empat penyakit utama yang dapat muncul pasca banjir, relevansi yang terlihat di Indonesia dan negara lain dengan karakteristik serupa.
Ancaman Leptospirosis Pasca Banjir
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit umum yang muncul setelah banjir. Dicky mengatakan, 'Leptospirosis sekarang itu yang tinggi potensi menjadi wabah' akibat paparan manusia terhadap air kencing tikus dan hewan reservoir lainnya.
Dengan meningkatnya interaksi masyarakat dengan lingkungan yang tercemar, tingkat penularan bakteri Leptospira menjadi perhatian serius bagi kesehatan. Tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap potensi wabah ini perlu ditingkatkan.
Penyakit Fekal-Oral dan Dampaknya
Penyakit berbasis fekal-oral, terutama diare, juga meningkat pasca banjir. Sanitasi yang buruk dan sumur dangkal yang terkontaminasi air banjir memicu beragam infeksi.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Senne Lammens
Dicky menjelaskan, 'Orang BAB atau kencing dimana saja' menjadi pemicu penyebaran penyakit ini. Terbatasnya fasilitas mencuci tangan di lokasi pengungsian turut memperburuk situasi.
Demam Tifoid dan Risiko Kontaminasi
Demam tifoid (tipes) sering muncul setelah banjir, disebabkan oleh kontaminasi makanan dan minuman. Dicky menekankan, 'Makanan dan minuman mudah terkontaminasi oleh air banjir' yang berisiko menyebabkan wabah.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman pasca bencana, demi mencegah meningkatnya kasus infeksi.
Wabah Penyakit Vektor Pasca Banjir
Genangan air pasca banjir menjadi tempat berkembang biak bagi nyamuk, meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue dan malaria. Dicky menyoroti, 'Ini biasanya terjadinya satu bulan pasca bencana, jadi agak lebih lama'.
Kesadaran akan penyakit terkait vektor sangat penting saat komunitas berusaha pulih dari dampak bencana.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: