Jumat, 05 DESEMBER 2025 • 21:35 WIB

Fenomena 'Brain Rot' di Kalangan Generasi Z dan Dampaknya

Author

Fenomena 'Brain Rot' di Kalangan Generasi Z dan Dampaknya

Fenomena 'brain rot' kini tengah menjadi sorotan, terutama di kalangan Generasi Z yang terjebak dalam lautan media sosial. Rata-rata, mereka menghabiskan lebih dari enam jam sehari untuk berselancar di platform seperti TikTok dan Instagram.

Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol

Kondisi ini menarik perhatian para ahli kesehatan mental, yang menyatakan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berakibat pada penurunan fungsi kognitif dan daya ingat.

Kondisi Otak dan Dampak Media Sosial

Paparan informasi yang cepat dan berlebihan berkontribusi pada penurunan daya ingat pada Generasi Z. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkorelasi dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, yang penting bagi banyak anak muda.

Ahli saraf kognitif dari MIT, Earl Miller, menegaskan, 'Brain rot bukan berarti otak kita benar-benar membusuk. Masalahnya, otak kita tidak dirancang menghadapi arus informasi tanpa henti seperti ini.' Ini menekankan pentingnya interaksi nyata.

Laporan dari American Psychological Association menyoroti bahwa kecanduan video pendek dapat menyebabkan 'penuaan otak dini' bagi mereka berusia 18 hingga 29 tahun. Amanda Elton dari University of Florida menyatakan bahwa istilah 'accelerated brain aging' lebih tepat untuk menggambarkan kondisi ini.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia

Inisiatif untuk Mencegah 'Brain Rot'

Generasi Z telah mengembangkan tren baru untuk mengatasi efek negatif konsumsi media sosial. Salah satunya adalah menciptakan 'kurikulum bulanan', seperti yang dilakukan Elizabeth Jean, di mana ia menyusun daftar bacaan dan kegiatan edukatif.

Ada juga gerakan untuk 'lepas ponsel' ketika berada di rumah, menciptakan ruang untuk interaksi sosial yang lebih bermakna. Konsep 'dopamine menu' menawarkan cara positif untuk meraih kebahagiaan tanpa bergantung pada gadget.

Aplikasi seperti Brick dan Focus Friend semakin populer sebagai langkah detoks digital. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna yang menghindari media sosial selama dua minggu mengalami peningkatan fokus dan produktivitas.

Pentingnya Waktu Jauh dari Layar

Interaksi sosial langsung terbukti vital untuk menjaga fungsi otak yang sehat. Menghindari multitasking digital dapat mencegah penurunan ingatan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan.

Aktivitas offline seperti bermain game, membaca, dan menulis jurnal telah menunjukkan dampak positif pada kesehatan mental. Gary Small dari Hackensack Meridian School of Medicine mengatakan, 'Semakin cepat seseorang melindungi kesehatan otaknya, maka hasil baiknya dapat berjangka panjang.'

Generasi Z tidak hanya menunjukkan ketergantungan pada media digital, tetapi juga menunjukkan keberanian untuk menciptakan solusi inovatif dalam menjaga kesehatan otak mereka.

Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU