Selasa, 02 DESEMBER 2025 • 20:26 WIB

Peringatan Potensi Bencana Alam di Jawa Barat: Analisis Mendalam

Author

Peringatan Potensi Bencana Alam di Jawa Barat: Analisis Mendalam

Walhi Jawa Barat mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi bencana banjir bandang dan longsor yang meningkat di wilayah ini. Ancaman ini diperkirakan bisa lebih parah dibandingkan dengan kejadian serupa di Aceh dan Sumatera Barat.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin Iwang, menyatakan bahwa kondisi provinsi ini sangat rentan terhadap bencana, terutama akibat kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Kerentanan Wilayah Terhadap Bencana

Wahyudin Iwang menegaskan bahwa Jawa Barat adalah provinsi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana alam, seperti tsunami, gunung berapi, dan banjir bandang. Ia menyatakan, "Bencana ekologis tersebut sangat mungkin bisa terjadi serupa di Jawa Barat, bahkan alam bisa lebih dari itu untuk mengingatkan kita semua."

Salah satu penyebab utama dari potensi bencana ini adalah meningkatnya kerusakan lingkungan yang terjadi. Walhi mencatat bahwa upaya pemerintah dalam pencegahan dan pemulihan lingkungan belum cukup memadai.

Wahyudin juga mengungkapkan bahwa terdapat banyak izin usaha tambang yang sudah habis masa berlakunya namun masih terus beroperasi. Ini semakin menambah kerentanan wilayah terhadap bencana yang mungkin terjadi.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool

Penurunan Tutupan Hutan

Menurut data Walhi, tutupan hutan di Jawa Barat mengalami penyusutan yang signifikan, mencapai 43 persen dari total kawasan hutan selama periode 2023-2025. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh konversi lahan untuk tambang dan proyek pengembangan lainnya.

Wahyudin menyoroti bahwa banyak kawasan hutan telah beralih fungsi menjadi area tambang dan proyek wisata. Ia menyebutkan, "Kawasan konservasi telah terus menyusut bahkan terdapat kegiatan bangunan di area konservasi, dan itu ironi sekali."

Alih fungsi lahan di area imbuhan, seperti persawahan, mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air. Penurunan ini berpotensi meningkatkan risiko bencana seperti banjir dan longsor, yang sangat membahayakan komunitas di sekitarnya.

Tindakan Pemerintah dan Upaya Pemulihan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap bahwa kerusakan hutan di provinsi ini sudah mencapai 80 persen. Ia menjelaskan, "Jawa Barat kondisi hutan yang betul-betul masih hutan kan 20 persen lagi. 80 persen kan dalam keadaan rusak."

Dedi menekankan bahwa pada Desember 2025, Pemprov Jabar akan memulai program pemulihan untuk menanggulangi kerusakan hutan. Masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya ini, dengan setiap hektare hutan dikelola oleh dua warga.

Setiap masyarakat yang terlibat dalam program ini akan mendapatkan upah sebesar Rp50 ribu per hari untuk menanam dan merawat pohon. Jenis pohon yang ditanam akan mencakup varietas yang tidak bisa ditebang serta pohon produktif untuk manfaat jangka panjang.

Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke RS Polri: Memantau Korban Aksi Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU