Deforestasi di Indonesia semakin menjadi pembicaraan hangat, terutama setelah banjir dan longsor yang melanda Sumatera. Ini menunjukkan dampak nyata dari hilangnya hutan yang sudah berlangsung lama.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Data terbaru mencatat bahwa Indonesia berada di urutan lima dunia dalam hal kehilangan hutan, meskipun laju penurunan deforestasi telah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Deforestasi Indonesia: Data dan Statistik
Berdasarkan data dari Global Forest Watch (GFW), Indonesia kehilangan sekitar 1,1 juta hektare tutupan pohon pada tahun 2024. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tingkat kehilangan hutan tertinggi di dunia.
Lima provinsi yang mengalami deforestasi terbesar meliputi Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur. Meskipun kebijakan untuk mengurangi kerusakan hutan ada, nyata bahwa tekanan terhadap hutan masih sangat signifikan.
Data menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya untuk membatasi deforestasi, tantangan besar tetap ada, dan pertanyaan tentang keberlanjutan hutan Indonesia semakin mendesak.
Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Kalimantan: Fokus Deforestasi
Kalimantan menjadi sorotan utama dalam masalah deforestasi nasional, di mana data Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa angka deforestasi netto mencapai 175,4 ribu hektare pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, 92,8% adalah deforestasi bruto, sebagian besar terjadi di hutan sekunder.
Kebakaran hutan serta ekspansi perkebunan, terutama sawit dan tambang, berkontribusi besar terhadap krisis lingkungan ini. Masalah-masalah tersebut terus mengancam kekayaan hutan Kalimantan.
Hutan yang seharusnya menjadi penyangga alam, kini terancam oleh aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan.
Penyebab Deforestasi di Indonesia
Beberapa faktor saling berhubungan dalam menyebabkan deforestasi di Indonesia, termasuk alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara. Fenomena ini menciptakan dampak yang luas terhadap ekosistem lokal.
Di samping itu, pembalakan liar dan pembakaran hutan semakin meluas, seringkali disebabkan oleh akses yang lebih mudah ke area hutan. Hal ini ditambah oleh faktor pembangunan infrastruktur yang terkait dengan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tekanan terhadap hutan di Kalimantan semakin meningkat seiring dengan pembangunan yang pesat, membuat situasi semakin kompleks dan memerlukan perhatian serius dari pembuat kebijakan.
Baca juga: Presiden Prabowo Berikan Penghargaan bagi Polisi Terluka dalam Aksi Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: