Belakangan ini, ghosting menjadi fenomena yang kian marak di dunia kencan, khususnya di kalangan generasi muda di Indonesia. Praktik ini mengacu pada keputusan seseorang untuk menghentikan komunikasi tanpa penjelasan, yang meninggalkan perasaan bingung bagi lawan bicaranya.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Dengan semakin meningkatnya penggunaan aplikasi kencan dan interaksi daring, ghosting dinilai sebagai cara yang mudah untuk menghindari perpisahan yang tidak nyaman. Lalu, apa yang sebenarnya mendorong tingginya angka ghosting di masyarakat saat ini?
Apa Itu Ghosting?
Ghosting adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tindakan seseorang yang tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa memberikan penjelasan. Dalam konteks hubungan romantis, hal ini sering terlihat saat salah satu pihak menghentikan komunikasi secara mendadak dan mengabaikan pesan yang dikirim oleh lawan bicaranya.
Di era digital saat ini, tindakan ghosting kian mudah dilakukan, terutama melalui media sosial dan aplikasi kencan. Dari sekadar tidak membalas pesan hingga menghapus akun, semua ini dapat membuat seseorang merasa ditinggalkan tanpa pemahaman yang jelas.
Dampak psikologis dari ghosting tidak bisa diabaikan. Banyak individu merasa terluka dan bingung saat ditinggalkan tanpa kata-kata. Hal ini menciptakan perasaan bahwa orang yang melakukan ghosting tidak menganggap mereka berharga.
Seperti yang dinyatakan seorang psikolog, "Ghosting sering kali meninggalkan rasa sakit dan ketidakpastian yang mendalam. Ini bisa menjadi pengalaman yang merusak bagi banyak orang."
Mengapa Ghosting Menjadi Normal?
Beberapa faktor berkontribusi pada meningkatnya penerimaan ghosting dalam masyarakat. Pertama, kemudahan teknologi memungkinkan komunikasi tanpa tatap muka, yang mengurangi rasa tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Selain itu, ketakutan menghadapi konfrontasi menjadi penyebab lain. Banyak orang lebih memilih untuk menghilang daripada menjelaskan perasaan mereka yang mungkin menyakitkan.
Ada juga pandangan bahwa ghosting merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan memberikan jawaban yang menyakitkan. Individu merasa bahwa mereka berbuat baik dengan menghindari percakapan yang bisa berujung pada drama atau kesedihan.
Seorang ahli hubungan menambahkan, "Ghosting sering kali dipandang sebagai solusi cepat untuk menghindari situasi yang tidak nyaman. Namun, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang diperkirakan."
Dampak dari Ghosting
Dampak ghosting biasanya dirasakan langsung oleh pihak yang ditinggalkan. Mereka sering kali merasa terasing dan berusaha mencari tahu apa yang salah, padahal keputusan tersebut seringkali sepihak tanpa penjelasan yang jelas.
Ketidakpastian yang ditinggalkan dapat menimbulkan masalah kesehatan mental, termasuk peningkatan kecemasan dan penurunan harga diri. Banyak yang merasa tidak berharga dan mulai mempertanyakan nilai diri mereka setelah mengalami ghosting.
Dalam jangka panjang, ghosting dapat mempengaruhi cara pandang dan kepercayaan seseorang terhadap hubungan di masa depan. Individu mungkin menjadi lebih skeptis dan mengalami kesulitan dalam mempercayai orang lain.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang peneliti hubungan, "Ghosting tidak hanya menghancurkan perasaan individu, tetapi juga memengaruhi bagaimana mereka membentuk relasi di masa depan."
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: