Sebuah fakta menarik mengungkapkan bahwa manusia cenderung lebih mengingat kenangan buruk ketimbang kenangan bahagia. Fenomena ini menarik perhatian dalam kajian psikologi dan ilmu saraf, memicu pertanyaan tentang cara otak memproses pengalaman emosional.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Penyebabnya terkait dengan bagaimana kenangan negatif terproses di otak kita, yang terbukti memiliki dampak lebih kuat dan bertahan lebih lama di ingatan.
Pengaruh Emosi Terhadap Memori
Emosi yang mendalam seperti kesedihan atau kemarahan dapat memperkuat ingatan kita akan peristiwa tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman emosional cenderung diingat lebih baik, karena otak memberikan perhatian lebih pada kejadian yang menimbulkan reaksi emosional yang kuat.
Contoh nyata terjadi saat kehilangan pekerjaan atau seseorang yang dicintai, di mana pengalaman tersebut tercatat lebih detail dalam memori. Hal ini disebabkan oleh pelepasan hormon stres yang meningkatkan ketajaman ingatan akan detail peristiwa.
Di sisi lain, kenangan bahagia yang kurang melibatkan emosi tidak selalu diingat dengan jelas. Momen-momen sederhana yang mendatangkan kebahagiaan sering kali tersimpan dalam ingatan secara ambigu, sehingga kurang terawasi.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Konstruksi Kenangan
Kenangan tidak disimpan seperti data dalam komputer, melainkan lebih seperti rekaman yang bisa diputar ulang. Kenangan buruk cenderung direkonstruksi, sehingga setiap kali kita mengingatnya, kita merasakan kembali emosi yang muncul pada saat itu.
Dr. Elizabeth Loftus, seorang pakar psikologi, menjelaskan bahwa kenangan bersifat dapat dimanipulasi dan berubah seiring waktu. Proses pemikiran berulang mengenai kenangan buruk mampu memperkuat memori tersebut.
Sebaliknya, kenangan bahagia bisa saja jadi samar jika tidak sering diingat atau dirasakan kembali. Kenangan positif sering kali memerlukan konteks tertentu agar dapat diingat dengan jelas.
Dampak Sosial dan Budaya
Budaya dalam masyarakat juga memainkan peran dalam cara kita memproses kenangan. Dalam banyak budaya, pengalaman negatif sering kali dianggap sebagai pelajaran berharga, sehingga kita lebih fokus pada kenangan buruk.
Hal ini membuat kita cenderung memandang pengalaman buruk dengan keseriusan, dan sering kali diingatkan untuk mengambil pelajaran dari kesalahan. Dalam konteks pendidikan, fokus lebih diberikan pada pembelajaran dari pengalaman sulit dibandingkan merayakan kesuksesan.
Situasi ini selanjutnya memperkuat ingatan kolektif mengenai pengalaman yang sulit, di mana baik individu maupun komunitas mengaitkan lebih banyak pembelajaran dari kenangan buruk daripada dari yang baik.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: